Skripsi – Kesantunan Berbahasa

BAB III TEMUAN DAN ANALISIS DATA


BAB III

TEMUAN DAN ANALISIS DATA

3.1 Wujud Kesantunan Imperatif Dalam Interaksi Antarsantri Putri Pondok Pesantren Sunan Drajat Banjaranyar Paciran Lamongan

Sebelum sampai pada masalah makna dasar pragmatik imperatif dan strategi kesantunan antarsantri putri Pondok Pesantren Sunan Drajat dilihat dari tingkat ilmu dan status kelembagaan, akan dibicarakan terlebih dahulu tentang wujud pemakaian kesantunan imperatif antarsantri putri, karena keduanya merupakan bagian integral dari penelitian ini.

Peneliti membagi kesantunan imperatif dalam bahasa Jawa dialek Lamongan menjadi wujud imperatif dan kesantunan imperatif. Wujud imperatif meliputi wujud imperatif formal (imperatif aktif dan imperatif pasif) dan wujud imperatif pragmatik (tuturan bermakna pragmatik imperatif desakan, bujukan, himbauan, persilaan, larangan, perintah, permintaan, dan “ngelulu“). Sedangkan kesantunan imperatif meliputi kesantunan linguistik (faktor panjang pendek tuturan, faktor urutan tutur, faktor intonasi tuturan dan isyarat-isyarat kinesik, dan faktor ungkapan-ungkapan penanda kesantunan yang meliputi penanda kesantunan tulung, ayo, coba, mbok/mbokya, dan ndang) dan kesantunan pragmatik (kesantunan pragmatik imperatif dalam tuturan deklaratif dan kesantunan pragmatik imperatif dalam tuturan interogatif). Berikut akan diuraikan lebih lanjut.

3.1.1 Wujud Imperatif

3.1.1.1 Wujud Formal Imperatif

Tipe-tipe bentuk imperatif ini meliputi tipe imperatif aktif dan tipe imperatif pasif.

A. Imperatif Aktif

Imperatif aktif dalam bahasa Jawa dialek Lamongan pada penelitian ini dibedakan berdasarkan penggolongan verbanya menjadi dua macam, yakni imperatif aktif berciri tidak transitif dan imperatif aktif berciri transitif.

A.1 Imperatif Aktif Tidak Transitif

Dalam Moelijono (1992) dijelaskan bahwa kalimat tidak transitif atau tak transitif adalah kalimat yang tak berobjek. Penggunaan imperatif aktif berciri tidak transitif dalam interaksi antarsantri putri Pondok Pesantren Sunan Drajat bisa dilihat pada contoh di bawah ini.

(1) a. Kowe dolan nang omahku mene!

Kamu main ke rumahku besok!’

’Bermainlah ke rumahku besok!’

b. Dolan nang omahku mene!

’Main ke rumahku besok!’

’Bermainlah ke rumahku besok!’

c. Dolana nang omahku mene!

’Mainlah ke rumahku besok!’

’Bermainlah ke rumahku besok!’

Konteks tuturan:

Tuturan tersebut diucapkan seorang santri kepada temannya yang sudah akrab. Ketika itu mereka akan berpisah pulang saat liburan pondok.

(2) a. Gak ngono. Sampeyan mudhun dhisik!

’Tidak begitu. Kamu turun dulu!’

’Tidak begitu caranya. Kamu turunlah dulu!’

b. Gak ngono. Mudhun dhisik!

’Tidak begitu. Turun dulu!’

’Tidak begitu caranya. Turunlah dulu!’

c. Gak ngono. Mudhuna dhisik!

’Tidak begitu. Turunlah dulu!’

’Tidak begitu caranya. Turunlah dulu!’

Konteks tuturan:

Tuturan tersebut diucapkan seorang santri kepada temannya. Mereka sedang mendekorasi ruangan untuk acara muhadhoroh. Santri tersebut tidak puas dengan hasil dekorasi temannya dan menyuruh temannya turun dari kursi kemudian memberikan contoh cara mendekor seperti yang diinginkan.

(3) a. Sampeyan mulih, ojo mrene!

‘Kamu pulang, jangan kesini!’

’Pulang sana, jangan kesini!’

b. Mulih, ojo mrene!

’Pulang, jangan kesini!’

’Pulang sana, jangan kesini!’

c. Muliha, ojo mrene!

’Pulanglah, jangan kesini!’

’Pulang sana, jangan kesini!’

Konteks tuturan:

Tuturan tersebut diucapkan santri saat latihan khitobah (lomba berpidato), yang saat itu latihan sendiri dan mendapati temannya mengintip kamar, sehingga santri tersebut menyuruh temannya untuk tidak ke kamarnya.

Contoh-contoh tuturan di atas menunjukkan bentuk-bentuk imperatif aktif yang tidak transitif. Verba tidak transitif tersebut berupa kata dasar seperti dolan, mudhun, dan mulih. Kata turunan seperti dolanan dalam kalimat ”Dolanana nang njaba!” tidaklah mengalami perubahan. Demikian pula apabila verba tidak transitif merupakan kata turunan yang didahului dengan N- seperti pada nyapu dalam kalimat ”Ndang nyapu!” maka verba itu tidak perlu ditanggalkan untuk membentuk tuturan imperatif aktif tidak transitif.

Bentuk imperatif tidak transitif dalam contoh di atas dapat dibentuk dengan ketentuan:

a. Menghilangkan subjek yang lazimnya berupa persona kedua seperti koen, sampeyan, kowe, kowe kabeh, awakmu dan lain-lain.

b. Mempertahankan bentuk verba apa adanya.

c. Menambah partikel –a pada bagian tertentu untuk memperhalus maksud imperatif aktif tersebut.

A.2 Imperatif Aktif Transitif

Kalimat transitif adalah kalimat yang menuntut kehadiran objek atau pelengkap. Untuk membentuk tuturan imperatif aktif transitif, berlaku ketentuan yang telah diuraikan dalam membentuk tuturan tuturan aktif tak transitif.

(4) a. Sampeyan ngangkat bangku ini saiki!

‘Kamu mengangkat bangku ini sekarang!’

’Kamu angkatkan bangku ini sekarang!’

b. Angkat bangku iki saiki!

’Angkat bangku ini sekarang!’

’Angkatkan bangku ini sekarang!’

c. Angkatna bangku iki saiki!

’Angkatkan bangku ini sekarang!’

’Angkatkan bangku ini sekarang!’

(5) a. Sampeyan nggolek ilmu mulai saiki mumpung sek enom!

’Kamu mencari ilmu mulai sekarang mumpung masih muda!’

’Carilah ilmu mulai dari sekarang mumpung masih muda!’

b. Golek ilmu mulai saiki mumpung sek enom!

’Cari ilmu mulai sekarang mumpung masih muda!’

’Carilah ilmu mulai dari sekarang mumpung masih muda!’

c. Goleka ilmu mulai saiki mumpung sek enom!

’Carilah ilmu mulai sekarang mumpung masih muda!’

’Carilah ilmu mulai dari sekarang mumpung masih muda!’

B. Imperatif Pasif

Yang dimaksud dengan wujud imperatif pasif adalah realisasi terhadap bentuk imperatif yang verbanya pasif. Berikut ini terdapat bentuk-bentuk imperatif yang verbanya pasif.

v Imperatif pasif dengan verba + -en

(6) Rin, jupu’en bukumu.

Rin, ambillah bukumu’

’Rin, ambil bukumu’

(7) Dik, gawaen jajan iki kanggo konco-koncomu.

’Dik, bawalah jajan ini buat teman-temanmu’

’Dik, bawa jajan ini ke teman-temanmu’

(8) Mbak, tukuen jilbabku.

’Mbak, belilah jilbabku’

’Beli jilbabku mbak’

Tuturan pada contoh-contoh di atas menunjukkan bahwa subjek imperatif di sini cenderung definitive. Hal ini dapat dibuktikan bahwa bentuk-bentuk berikut cenderung tidak berterima.

(6a) Rin, jupu’en buku.

Rin, ambillah buku’

’Rin, ambil buku’

(7a) Dik, gawaen jajan iki kanggo konco-konco.

’Dik, bawalah jajan ini buat teman-teman’

’Dik, bawa jajan ini ke teman-teman’

(8a) Mbak, tukuen jilbab.

’Mbak, belilah jilbab’

’Beli jilbab mbak’

Sedangkan pada contoh tuturan berikut ini justru menunjukkan kehadiran orang kedua yang dapat dikatakan cenderung tidak wajib. Hal ini dapat dibuktikan bahwa bentuk yang demikian ini lebih berterima.

(6b) Jupu’en bukumu.

’Ambillah bukumu’

’Ambil bukumu’

(7b) Gawaen jajan iki kanggo konco-koncomu.

’Bawalah jajan ini buat teman-temanmu’

’Bawa jajan ini ke teman-temanmu’

(8b) Tukuen jilbabku.

’Belilah jilbabku’.

’Beli jilbab mbak’

Atas dasar temuan bentuk-bentuk tuturan tersebut maka dapat dinyatakan bahwa:

  1. Orang kedua pada bentuk imperatif pasif dengan verba + -en tidak wajib hadir.
  2. Subjek bentuk imperatif pasif dengan verba + -en cenderung definit.

v Imperatif pasif dengan verba + -na

(9) Mir, wacakna kitabmu.

’Mir, bacakan kitabmu’

’Bacakan kitabmu Mir’

(10) Dik, Lia jupukna obat.

‘Dik, Lia ambilkan obat’

‘Dik, ambilkan obat untuk Lia’

(11) Mbak Is, setelna radio.

‘Mbak Is, nyalakan radio’

‘Nyalakan radionya mbak Is’

v Imperatif pasif dengan di- + verba + -ae

Bentuk-bentuk imperatif pasif yang verbanya berbentuk di- + verba + -ae seperti terdapat dalam contoh tuturan berikut:

(12) Dibuwak ae sampahe.

‘Dibuang saja sampahnya’

‘Sampahnya dibuang saja’

(13) Disetel ae radione.

‘Dinyala saja radionya’

‘Radionya dinyalakan saja’

(14) Kitabmu digawa ae.

‘Kitabmu dibawa saja’

‘Bawa saja kitabmu’

Tuturan pada contoh-contoh di atas menunjukkan bahwa subjek cenderung wajib hadir dan definit. Subjek tersebut seperti –e pada sampahe, -ne pada radione, dan –mu pada kitabmu. Kehadiran subjek yang wajib ini dapat dibuktikan dengan tidak berterimanya contoh-contoh tuturan berikut dalam konstruksi bahasa Jawa.

(12a) Dibuwak ae sampah.

‘Dibuang saja sampah’

‘Sampah dibuang saja’

(13a) Disetel ae radio.

‘Dinyala saja radio’

‘Radio dinyalakan saja’

(14a) Kitab digawa ae.

‘Kitab dibawa saja’

‘Bawa saja kitab’

Walaupun bentuk-bentuk di atas dikatakan tidak berterima namun tidak menutup kemungkinan bentuk tuturan seperti itu mungkin ada atau dipakai dalam tuturan sehari-hari. Yang perlu diperhatikan bahwa bentuk tuturan yang semula diikuti subjek kemudian dihilangkan maka menjadikan tuturan itu berubah makna.

3.1.1.2 Wujud Pragmatik Imperatif

Wujud Pragmatik Imperatif adalah maksud imperatif, yakni apabila dikaitkan dengan konteks situasi tutur yang melatarbelakanginya. Makna tersebut sangat ditentukan konteksnya, baik konteks yang bersifat ekstralinguistik maupun intralinguistik.

Selain berwujud pragmatik, wujud pragmatik imperatif dalam bahasa Jawa dialek Lamongan ini dapat juga berupa tuturan dengan konstruksi nonimperatif. Dalam konstruksi yang bermacam-macam tersebut ditemukan pula makna-makna pragmatik imperatif yang langsung maupun tidak langsung. Selanjutnya masing-masing wujud makna pragmatik imperatif tersebut diuraikan sebagai berikut:

A. Tuturan Bermakna Pragmatik Imperatif Desakan

Dalam bahasa Jawa dialek Lamongan, tuturan imperatif dengan makna desakan biasanya menggunakan kata ayo atau cepat sebagai pemarkah makna. Kadang-kadang pula digunakan kata ndang untuk memberi penekanan maksud desakan. Tipe imperatif jenis ini dapat dilihat pada tuturan-tuturan berikut:

(15) Ayo cah dimari’na saiki! Engko selek bel.

‘Ayo nak diselesaikan sekarang! Nanti keburu bel.’

’Selesaikan sekarang kerajinan tangannya! Nanti keburu bel.’

Konteks tuturan:

Tuturan ini diungkapkan seorang santri kepada temannya pada saat mereka mengerjakan kerajinan tangan di kamar pondok. Sementara sebentar lagi bel sholat maghrib akan berbunyi.

(16) Ayo! Ndang diwaca nadhame.

’Ayo! Lekas dibaca nadhamnya.’

‘Ayo! Baca nadhamnya.’

Konteks tuturan:

Tuturan tersebut dituturkan seorang ustadzah kepada santri (murid)nya di kelas.

(17) Cepet jama’ah! Jama’ah! Engko kari lho.

’Cepat jama’ah! Jama’ah! Nanti ketinggalan lho.’

‘Cepat berangkat sholat jama’ah! Nanti ketinggalan jama’ah lho.’

Konteks tuturan:

Tuturan tersebut dituturkan oleh seorang pengurus kepada santri saat terdengar suara adzan.

Dalam komunikasi sehari-hari didapati tuturan yang menggunakan pemarkah imperatif desakan seperti ayo, cepet, dan ndang secara bersamaan. Makna pragmatik imperatif desakan dalam kegiatan bertutur santri dapat juga ditunjukkan dengan tuturan-tuturan tidak langsung yang berkonstruksi nonimperatif. Seperti dapat dilihat pada contoh berikut:

(18) Kapan PRe sampeyan kerjakna dik?

’Kapan PRnya kamu kerjakan dik?’

’PRnya kamu kerjakan kapan dik?’

Konteks tuturan:

Tuturan ini disampaikan seorang santri kepada adik kelasnya yang kebetulan tinggal satu kamar.

(19) Min, kitabe mene disila Lisa.

’Min, kitabnya besok dipinjam Lisa.’

’Besok kitabnya dipinjam Lisa Min.’

Konteks tuturan:

Tuturan ini diucapkan seorang santri kepada teman yang meminjam bukunya dan masih belum dikembalikan.

B. Tuturan Bermakna Imperatif Bujukan

Imperatif bermakna bujukan dalam bahasa Jawa dialek Lamongan biasanya disertai dengan penanda kesantunan coba, yang bisa dilihat pada contoh berikut:

(20) Coba buka’en lemari iku, lek iso tak wei hadiah tepuk tangan.

’Coba bukalah almari itu, kalau bisa aku beri hadiah tepuk tangan.’

’Coba buka almari itu, kalau bisa nanti aku beri hadiah tepuk tangan.’

Konteks tuturan:

Tuturan di atas diucapkan santri kepada teman sekamarnya. Dia menyuruh temannya untuk membuka pintu almari yang sulit dibuka.

(21) Coba Irma, maknanana bab terusane!

’Coba Irma, maknani bab selanjutnya!’

’Coba Irma, maknailah bab selanjutnya!’

Konteks tuturan:

Tuturan di atas diucapkan ustadzah kepada santri yang dianggap pintar ketika dalam kegiatan belajar mengajar di kelas.

(22) Ncul, sapuen tangga kene! Ben enak disawang.

’Ayolah, sapulah tangga disini! Biar enak dilihat.’

’Sapu tangga ini agar terlihat bersih.’

Konteks tuturan:

Tuturan di atas diucapkan pengurus ketika bertemu santri di tangga yang saat itu kotor.

Dalam percakapan santri ponpes putri Sunan Drajat, sering ditemukan juga imperatif yang mengandung makna pragmatik bujukan yang tidak diwujudkan dalam bentuk tuturan imperatif. Tuturan tersebut bisa diwujudkan dengan tuturan yang berbentuk deklaratif ataupun interogatif. Tuturan tersebut dapat dilihat pada contoh berikut:

(23) Masio gagal SPMB, engko lak iso melu liyane

’Meskipun gagal SPMB, nanti kan bisa ikut lainnya.’

’Meskipun nanti gagal test SPMB, kan masih bisa ikut tes lainnya.’

Konteks tuturan:

Tuturan ini disampaikan pengurus pondok kepada santri yang akan lulus dan akan mengikuti tes SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru).

(24) Sampeyan gak kepingin tampil beda ta?

‘Kamu tidak ingin tampil beda ta?’

’Apakah kamu tidak ingin tampil beda?’

Konteks tuturan:

Tuturan ini disampaikan seorang santri kepada temannya di koperasi pondok ketika keduanya melihat-lihat baju.

C. Tuturan Bermakna Imperatif Himbauan

Dalam percakapan sehari-hari santri, tuturan yang bermakna imperatif himbauan sering menggunakan partikel –a. Selain itu, imperatif jenis ini sering digunakan bersama dengan ungkapan penanda kesantunan mbok atau mbokya, seperti tampak pada contoh tuturan berikut:

(25) Nggawea jam lek ujian.

’Pakailah jam kalau ujian.’

’Kalau ujian pakailah jam tangan.’

Konteks tuturan:

Tuturan tersebut terjadi antarsantri ketika akan berangkat ujian.

(26) Lek gurune nerangna, mbok diperhatikna

’Kalau gurunya menerangkan hendaknya diperhatikan’

’Kalau guru sedang menerangkan pelajaran hendaknya diperhatikan’

Konteks tuturan:

Tuturan ini diucapkan seorang ustadzah kepada santri yang berbicara dengan temannya ketika sedang mengaji.

(27) Lek ana acara muhadhoroh kados ngeten niki, sampeyan ya melua kabeh!

’Kalau ada acara muhadhoroh seperti ini, kamu ya ikut semua!’

’Kalau ada acara muhadhoroh seperti ini, kalian semua hendaknya ikut!’

Konteks tuturan:

Tuturan ini diucapkan seorang pengurus pondok ketika berpidato dalam acara muhadhoroh.

(28) Lek ana rapat mbokya tekaa.

’Kalau ada rapat diharap datanglah.’

’Kalau ada rapat sebaiknya kamu datang.’

Konteks tuturan:

Tuturan ini diucapkan seorang pengurus pondok kepada sesama pengurus pondok yang tidak ikut rapat pada hari sebelumnya.

Tuturan bermakna imperatif himbauan dapat juga diwujudkan dalam bentuk-bentuk tuturan nonimperatif seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Seperti pada tuturan berikut:

(29) Tugase santri iku nomer siji sinau lan ngamalna ilmune.

’Tugas santri itu nomer satu belajar dan mengamalkan ilmunya.’

’Tugas santri yang pertama yaitu belajar danmengamalkan ilmunya.’

Konteks tuturan:

Tuturan tersebut disampaikan ustadzah kepada para santri (murid) ketika mengaji. Tuturan itu dimaksudkan sebagai himbauan agar murid-muridnya belajar dengan rajin dan mengamalkan ilmu mereka.

(30) Wis dadi kewajibane santri kabeh njaga kebersihan pondok supoyo resik.

’Sudah menjadi kewajibannya santri semua menjaga kebersihan pondok supaya bersih.’

’Sudah menjadi kewajiban semua santri untuk menjaga kebersihan pondok supaya terlihat bersih.’

Konteks tuturan:

Tuturan tersebut disampaikan pengurus kepada santri dalam acara muhadhoroh. Tuturan itu dimaksudkan sebagai himbauan agar seluruh santri menjaga kebersihan pondok.

(31) Mene atene ujian saiki gak sinau, iso ngerjakna ta?

’Besok akan ujian sekarang tidak belajar, bisa mengerjakan?’

’Besok akan ujian sekarang tidak belajar, apakah besok bisa mengerjakan soal?’

Konteks tuturan:

Tuturan tersebut disampaikan santri kepada teman setingkat di bawahnya ketika satu hari menjelang ujian di pondok. Tuturan itu dimaksudkan sebagai himbauan agar mitra tutur belajar jauh hari sebelum ujian.

D. Tuturan Bermakna Pragmatik Imperatif Persilaan

Dalam tuturan ini, biasanya para santri menggunakan penanda kesantunan monggo. Selain itu juga ditemukan penggunaan ayo dalam percakapan sehari-hari. Perbedaannya terletak pada siapa persilaan tersebut disampaikan. Tuturan tersebut bisa dilihat sebagai berikut:

(32) Ayo mlebu kamarku dhisik, engko budhal bareng.

’Ayo masuk kamarku dulu, nanti berangkat bersama.’

’Masuklah kamarku dulu, nanti kita berangkat bersama.’

Konteks tuturan:

Tuturan ini diucapkan santri kepada temannya di depan kamar ketika akan berangkat sekolah.

(33) Ayo lenggah sing rapi!

’Ayo duduk yang rapi!’

‘Ayo semuanya duduk yang rapi!’

Konteks tuturan:

Tuturan ini diucapkan ustadzah kepada santri-santrinya di kelas saat akan dibagikan hasil ujian.

(34) Santri-santri mangke jam enem ro’an sedanten! Annadhofatu minal iman.

’Santri-santri nanti jam enam kerja bakti semua! Kebersihan itu sebagian dari iman.’

’Bagi para santri nanti jam enam diharapkan kerja bakti! Kebersihan itu sebagian dari iman.’

Konteks tuturan:

Tuturan ini diucapkan pengurus melalui mikrofon kepada semua santri saat akan diadakan kerja bakti masal.

(35) Mbak Dwi, monggo!

’Mbak Dwi, silahkan!’

’Silahkan makan bersama kita mbak Dwi!’

Konteks Tuturan:

Tuturan tersebut diucapkan santri yang sedang makan di dalam kamar bersama teman-temannya, dan melihat ketua pondok lewat di depan kamar.

Tuturan jenis ini terkadang penanda kesantunan ayo dan monggo secara bersamaan. Hal ini dilakukan sebagai bentuk persilaan yang menunjukkan kesantunan berlebih, namun kecenderungan ini bersifat penegasan saja seperti tampak pada tuturan berikut:

(36) Ayo monggo diincipi. Enak kok dik.

’Ayo silahkan dicicipi. Enak kok dik.’

’Silahkan dicicipi. Rasanya enak dik.’

Konteks tuturan:

Tuturan tersebut disampaikan seorang santri yang baru mendapatkan kiriman makanan dari keluarganya. Dia menawarkan kepada temannya sesama santri yang kebetulan adik kelasnya.

Tuturan jenis ini juga bisa berbentuk tuturan nonimperatif, yakni deklaratif dan interogatif. Contoh:

(37) Santri 1: Nang njobo rame.

’Di luar ramai.’

’Suasana di luar ramai.’

Santri 2: Iya, lek ngono aku tak mlebu.

’Iya, kalau begitu aku masuk.’

’Kalau begitu aku masuk ke kamarmu dulu.’

Konteks tuturan:

Tuturan ini diucapkan oleh dua orang santri yang sedang belajar bersama di depan kamar. Sedangkan di luar kamar ramai.

(38) Santri 1: Kitab sing mok silik gek ingi durung mari tak waca.

’Kitab yang kamu pinjam kemaren belum selesai aku baca.’

’Kitabku yang kamu pinjam kemaren belum selesai aku baca.’

Santri 2: Lek ngono engko sore tak terna nang kamarmu.

’Kalau begitu nanti sore aku antar ke kamarmu.’

’Kalau begitu nanti sore bukunya aku antarkan ke kamarmu.’

Konteks tuturan:

Tuturan tersebut diucapkan antarsantri di kelas saat keduanya akan kembali ke kamar masing-masing.

(39) Santri 1: Wis bengi, sampeyan turu kene ta mbak?.

’Sudah malam, kamu tidur sini ta mbak?’

’Sudah malam sekarang, apa tidur sini mbak?’

Santri 2: Lho kok wis yaene. Lek ngono aku tak mulih.

’Lho kok sudah waktu sekarang. Kalau begitu aku pulang.’

’Lho kok sudah jam segini. Kalau begitu aku pulang sekarang.’

Konteks tuturan:

Tuturan tersebut diucapkan santri kepada temannya yang pada malam hari ke kamarnya.

E. Tuturan Bermakna Pragmatik Imperatif Larangan

Dalam bahasa Jawa dialek Lamongan, imperatif larangan biasanya menggunakan penanda kesantunan ojo yang berarti jangan. Pemakaian tuturan dengan penanda kesantunan itu dapat dilihat pada contoh berikut:

(40) Ojo ndele buku neng kono.

’Jangan menaruh buku di situ.’

’Jangan menaruh buku di tempat itu.’

Konteks tuturan:

Tuturan ini disampaikan santri kepada teman sekamarnya di kamar asrama.

(41) Lek diterangna, mpun rameh.

‘Kalau diterangkan, jangan ramai.’

‘Kalau gurunya sedang menerangkan, kalian jangan ramai.’

Konteks tuturan:

Tuturan tersebut diucapkan ustadzah kepada murid-muridnya di kelas.

(42) Ojo ijin bolak-balik!

’Jangan ijin bolak-balik!’

’Jangan minta ijin terlalu sering!’

Konteks tuturan:

Tuturan ini disampaikan pengurus kepada santri di kantor pengurus saat ada santri minta ijin.

Tuturan jenis ini juga bisa berbentuk tuturan nonimperatif, yakni deklaratif dan interogatif. Contoh:

(43) Ruanganee koyo pasar.

’Ruangannya seperti pasar’

’Ruangan ini ramai seperti pasar’

Konteks tuturan:

Tuturan ini disampaikan pengurus kepada santri di ruangan saat acara khitobah akan dimulai.

(44) Tempat sampahe gak ana ta?

’Tempat sampahnya tidak ada ta?’

‘Apakah tidak ada tempat sampahnya?’

Konteks tuturan:

Tuturan tersebut diucapkan pengurus kepada santri saat mendapati ada santri yang membuang sanpah sembarangan.

F. Tuturan Bermakna Pragmatik Imperatif Perintah

Jenis tuturan ini bisa dilihat pda contoh tuturan berikut:

(45) Menenga! Ana adzan.

’Diam! Ada adzan.’

‘Diam! Sedang ada suara adzan berkumandang.’

Konteks tuturan:

Tuturan di atas diucapkan santri kepada temannya yang berbicara saat terdengar suara adzan.

(46) Disemak kitabe! Ojo ngomong dewe.

‘Dilihat kitabnya! Jangan ngomong sendiri.’

‘Lihat kitab! Kalian jangan ngomong sendiri.’

Konteks tuturan:

Tuturan tersebut diucapkan ustadzah kepada santri ketika sedang mengajar dan mendapati dua santri yang sedang bicara sendiri.

(47) Lungguh! Kene’ ta’zir kok terus.

’Duduk! Kena hukuman kok terus.’

’Duduk! Masa kena hukuman kok terus.’

Konteks tuturan:

Tuturan di atas diucapkan pengurus keamanan kepada santri yang sering melanggar peraturan pondok.

(48) Mrenea! Karo sampeyan gawakna buku syahriyah iku!

‘Kesinilah! Sekalian kamu bawakan buku SPP itu!’

’Kesini! Sekalian sambil bawakan buku SPP itu!’

Konteks tuturan:

Tuturan tersebut diucapkan pengurus kepada temannya yang posisinya agak jauh dari dia.

Dalam pemahaman bahasa Jawa santri sehari-hari ditemukan juga beberapa makna pragmatik imperatif perintah yang diwujudkan dengan tuturan nonimperatif. Imperatif ini maknanya hanya dapat diketahui melalui konteks situasi tutur yang melatarbelakanginya. Seperti tampak pada contoh berikut:

(49) Lek sampeyan njaluk dita’zir terus, yo monggo.

‘Kalau kamu meminta dihukum terus, ya silahkan.’

’Kalau kamu minta dihukum terus karena sering melanggar peraturan ya

terserah.’

Konteks tuturan:

Tuturan ini disampaikan pengurus keamanan yang menasehati santri yang sering kena hukuman karena sering melanggar peraturan pondok.

Tuturan di atas bisa ditafsirkan menjadi bermacam-macam kemungkinan makna oleh orang yang mendengarnya. Di bagian akhir tuturan tersebut terdapat kata ya monggo yang kemungkinan besar akan ditafsirkan sebagai sebuah imperatif bermakna persilaan. Sedangkan bagi sebagian orang, tuturan tersebut dapat ditafsirkan sebagai sebuah perintah walaupun secara tidak langsung di dalamnya mengandung maksud agar santri tersebut tidak selalu dita’zir dengan tidak selalu melanggar peraturan pondok.

Dari contoh di atas kita bisa mengetahui bahwa konteks situasi tutur dapat menentukan kapan sebuah tuturan dapat ditafsirkan sebagai imperatif perintah dan kapan pula ditafsirkan sebagai makna pragmatik imperatif yang lain.

(50) Gak pegel nganjir terus?

’Tidak capek berdiri terus?’

’Apakah kamu tidak capek berdiri terus?’

Konteks tuturan:

Tuturan ini disampaikan santri kepada sesama temannya di kamar ketika sudah lama disuruh duduk masih tidak mau.

G. Tuturan Bermakna Pragmatik Imperatif permintaan

Tuturan imperatif yang mengandung makna permintaan lazimnya terdapat ungkapan penanda kesantunan tulung atau frasa lain yang bemakna minta. Penggunaan penanda kesantunan tulung dalam tuturan pragmatik jenis ini bisa memperhalus suatu tuturan.

(51) Tulung jupukna disketku ijo iku!

’Tolong, ambilkan disketku hijau itu!’

’Tolong, ambilkan disketku warna hijau itu!’

Konteks tuturan:

Tuturan di atas diucapkan santri kepada temannya di ruang kelas.

(52) Ra, tulung jupukna kitabku nang mejo kantor!

’Ra, tolong ambilkan kitabku di meja kantor!’

’Ra, tolong ambilkan kitabku di atas meja kantor!’

Konteks tuturan:

Tuturan di atas diucapkan ustadzah kepada santrinya di ruang kelas.

(53) Dik, tulung jalukna es teh rong gelas nang kantin!

’Dik, tolong mintakan es teh dua gelas ke kantin!’

’Dik, tolong mintakan es teh dua gelas ke penjaga kantin!’

Konteks tuturan:

Tuturan di atas diucapkan pengurus kepada santri. Saat itu ada tamu dari luar kota.

(54) Ncul ta mbak, gantikna aku qiro’ah!

’Ayolah mbak, gantikan aku qiro’ah!’

’Mbak gantikan aku qiro’ah!’

Konteks tuturan:

Tuturan di atas diucapkan pengurus kepada pengurus untuk menggantikan qiro’ah pada acara muhadhoroh, dikarenakan santri tersebut berhalangan.

Dari penelitian didapatkan bahwa makna pragmatik imperatif permintaan banyak diungkapkan dengan konstruksi nonimperatif. Seperti pada contoh berikut.

(55) Santri 1: Buku sing sampeyan silih minggu wingi durung mari tak waca

’Buku yang kamu pinjam minggu kemarin belum selesai aku baca.’

’Buku yang kami pinjam minggu kemarin belum selesai aku baca.’

Santri 2: Oh iya, engko tak balikna.

‘Oh iya, nanti aku kembalikan.’

’Oh iya, nanti aku kembalikan ke kamarmu.’

Konteks tuturan:

Tuturan tersebut diucapkan santri kepada temannya di asrama.

(56) Pengurus 1: Sampeyan nganggur ta?

’Kamu menganggur ta?’

’Apakah kamu sedang menganggur?’

Pengurus 2: Iya mbak, tak rewangi ngangkat.

‘Iya mbak, aku bantu mengangkat’

’Iya mbak, aku bantu mengangkat meja’

Konteks tuturan:

Tuturan tersebut dituturkan pengurus kepada temannya sesama pengurus untuk membantu dia mengangkatkan meja untuk acara haul akbar.

G. Tuturan Bermakna Pragmatik Imperatif ”ngelulu”

Kata ”ngelulu” berasal dari bahasa Jawa, yang bermakna seperti menyuruh mitra tutur melakukan sesuatu namun sebenarnya yang dimaksud adalah melarang melakukan sesuatu. Sebagaimana dalam penelitian Kunjana Rahardi, dalam penelitian ini penulis juga menggunakan istilah ”ngelulu” semata-mata karena tidak dapat ditemukan kata bahasa Indonesia yang tepat sebagai pedanannya. Dalam tuturan jenis ini makna imperatif yang lazimnya diungkapkan dengan penanda kesantunan ojo justru tidak digunakan. Tuturan bermakna pragmatik imperatif ”ngelulu” dapat dilihat pada contoh berikut:

(57) Ncul terusna!

’Ayo teruskan!’

’Ayo teruskan!

Konteks tuturan:

Tuturan tersebut diucapkan santri kepada temannya ketika didapati sedang mencoret-coret buku santri tersebut.

(58) Mene lek ngaji gak usah nyemak maneh ya!

’Besok kalau mengaji tidak usah melihat lagi ya!’

’Besok kalau sedang mengaji tidak usah memperhatikan guruya ya!’

Konteks tuturan:

Tuturan tersebut diucapkan ustadzah kepada santri karena tidak lancar membaca kitab kuning.

(59) Sesuk lek mbalik nang pondok nelato maneh ya!

’Nanti kalau kembali ke pondok telatlah lagi ya!’

’Lain kali kalau kembali ke pondok datang telat lagi saja ya!’

Konteks tuturan:

Tuturan tersebut diucapkan pengurus kepada seorang santri yang sering telat datang ke pondok selesai pulang.

Jenis tuturan pragmatik imperatif ini bisa juga diwujudkan dengan tuturan nonimperatif.

(60) Santri 1: Gak menisan mbalik sa’ulan engkas ae? Rugi lho.

’Tidak sekalian kembali sebulan lagi saja? Rugi lho.’

’Apakah tidak kembali ke pondok sebulan lagi saja? Rugi lho.’

Santri 2: Lah, justru iku sing tak pingini. (tertawa)

‘Nah, justru itu yang saya inginkan.’

’Nah, justru saya ingin seperti itu.’

Santri 1: (mencibir)

Konteks tuturan:

Tuturan itu diucapkan santri kepada temannya yang baru saja terlambat kembali ke pondok selama tiga hari.

(61) Malah lebih resik lek gak disaponi

’Malah lebih bersih kalau tidak disapui.’

’Lantainya malah terlihat lebih bersih kalau tidak disapu.’

Konteks tuturan:

Tuturan tersebut diucapkan santri kepada teman-temannya sekamar.

3.1.2 Kesantunan Imperatif

Dalam pembahasan bagian ini, akan diuraikan dua hal pokok mencakup wujud-wujud kesantunan berkaitan dengan pemakaian tuturan imperatif bahasa Jawa dialek Lamongan, yaitu kesantunan linguistik dan kesantunan pragmatiknya. Kesantunan linguistik membahas mengenai ciri linguistik yang selanjutnya mewujudkan kesantunan linguistik, sedangkan kesantunan pragmatik membahas mengenai ciri nonlinguistik tuturan imperatif yang selanjutnya mewujudkan kesantunan pragmatik.

3.1.2.1 Kesantunan Linguistik

Data yang diperoleh menunjukkan bahwa ada beberapa pemarkah linguistik yang menentukan kesantunan linguistik dalam tuturan imperatif bahasa Jawa dialek Lamongan, yaitu panjang pendek tuturan, urutan tutur, intonasi tuturan dan isyarat-isyarat kinesik, dan pemakaian ungkapan penanda kesantunan. Kesemuanya itu dipandang sebagai faktor penentu kesantunan linguistik tuturan imperatif dalam penelitian ini.

A. Faktor Panjang Pendek Tuturan

Hasil penelitian Kunjana Rahardi menunjukkan bahwa panjang pendek suatu tuturan bisa mempengaruhi tingkat kesantunan. Semakin panjang tuturan yang digunakan akan semakin santunlah tuturan itu. Sebaliknya, semakin pendek sebuah tuturan akan cenderung menjadi semakin tidak santunlah tuturan itu. Panjang pendeknya suatu tuturan berhubungan sangat erat dengan masalah kelangsungan dan ketidaklangsungan dalam bertutur. Sedangkan kelangsungan dan ketidaklangsungan bertutur berkaitan dengan masalah kesantunan (Kunjana 2000: 120).

Untuk lebih jelasnya mari kita lihat pada contoh berikut:

(62) Pulpen biru iku!

’Pulpen biru itu!’

’Ambilkan pulpe biru itu!’

(63) Jupukna pulpen biru iku!

’Ambilkan pulpen biru itu!’

’Ambilkan pulpen biru itu!’

(64) Tulung jupukna pulpen biru iku!

’Tolong ambilkan pulpen biru itu!’

‘Tolong ambilkan pulpen biru itu!’

(65) Tulung sampeyan jupukna pulpen biru iku!

’Tolong kamu ambilkan pulpen biru itu!’

’Tolong ambilkan pulpen biru itu!’

Konteks tuturan:

Tuturan di atas dituturkan oleh seorang santri kepada temannya dalam situasi yang berbeda-beda pada saat mereka berada dalam kelas.

Tuturan 62, 63, 64 dan 65 di atas memiliki makna yang intinya sama. Yang membedakan yaitu masing-masing tuturan memiliki jumlah kata dan ukuran panjang pendek yang tidak sama, yaitu secara berurutan semakin memanjang wujud tuturannya.

Tuturan (62) : terdiri atas tiga kata.

Tuturan (63) : terdiri atas empat kata.

Tuturan (64) : terdiri atas lima kata.

Tuturan (65) : terdiri atas enam kata.

Dari segi kesantunan dapat dikatakan bahwa dari keempat tuturan itu, tuturan (62) secara linguistik berkadar kesantunan paling rendah, sedangkan tuturan (65) memiliki kadar kesantunan paling tinggi.

Namun dalam Pondok Pesantren Sunan Drajat hal tersebut hanya berlaku untuk tuturan santri terhadap santri, ustadzah terhadap ustadzah, dan pengurus terhadap pengurus. Sedangkan interaksi santri terhadap ustadzah dan pengurus berlaku sebaliknya, dimana tuturan pendek dinilai lebih santun sedangkan tuturan yang lebih panjang dinilai kurang santun, bahkan tidak santun. Perilaku santri yang tidak banyak bicara justru semakin menunjukkan bahwa santri tersebut semakin santun terhadap ustadzah maupun pengurus pondok. Perhatikan contoh tuturan berikut ini.

(35) Mbak Dwi, monggo!

’Mbak Dwi, silahkan!’

’Silahkan makan bersama kita mbak Dwi.’

Konteks Tuturan:

Tuturan tersebut diucapkan santri yang sedang makan di dalam kamar bersama teman-temannya, dan melihat ketua pondok lewat di depan kamar.

Dalam Ponpes Sunan Drajat hampir bisa dipastikan bahwa tuturan bermakna imperatif tidak ada dalam komunikasi santri terhadap ustadzah dan pengurus. Jika ada itu pun jarang sekali.

B. Faktor Urutan Tutur

Urutan tutur sebuah tuturan berpengaruh besar terhadap tinggi rendahnya peringkat kesantunan tuturan yang digunakan pada saat bertutur. Dapat terjadi bahwa tuturan yang digunakan kurang santun, dapat menjadi jauh lebih santun ketika tuturan itu ditata kembali urutannya. Seperti pada contoh berikut:

(66) Wis jam 7 kurang seperempat, diluk engkas bel! Cepet!

’Sudah jam 7 kurang seperempat, sebentar lagi bel! Cepat!’

’Sudah jam 7 kurang seperempat, sebentar lagi bel berbunyi! Cepat mandinya!’

(67) Cepet! Diluk engkas bel! Wis jam 7 kurang seperempat.

’Cepat! Sebentar lagi bel! Sudah jam 7 kurang seperempat.’

’Cepat mandinya! Sudah jam 7 kurang seperempat, sebentar lagi bel berbunyi!’

Konteks tuturan:

Tuturan tersebut diucapkan seorang santri yang sedang antri mandi kepada temannya di kamar mandi.

Dari kedua tuturan di atas, tuturan (66) dianggap lebih santun daripada tuturan (67) meskipun pada intinya kedua tuturan tersebut memiliki maksud yang sama. Dengan demikian tuturan imperatif yang diawali dengan informasi nonimperatif didepannya memiliki kadar kesantunan yang lebih tinggi dibandingkan dengan tuturan imperatif yang tanpa diawali informasi nonimperatif di depannya. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan Rahadi (2000) dalam penelitiannya.

C. Faktor Intonasi Tuturan dan Isyarat-isyarat Kinesik

Menurut Kridalaksana (2001: 85) intonasi yaitu suatu pola perubahan nada yang dihasilkan pembicara pada waktu mengucapkan ujaran atau bagian-bagiannya. Menurut Sunaryati dalam Rahardi (2000), intonasi dapat dibedakan menjadi intonasi berita, intonasi tanya, dan intonasi seruan. Intonasi memiliki peranan besar dalam menentukan tinggi rendahnya peringkat kesantunan sebuah tuturan imperatif. Bisa dilihat pada tuturan berikut:

Ditimbali mbak Nafi’

’Dipanggili mbak Nafi’’

’Kamu dipanggil mbak Nafi’’

Tuturan di atas bisa berintonasi berita, beintonasi tanya, maupun berintonasi seruan. Selain itu tuturan tersebut juga berintonasi tinggi atau rendah (datar) yang mana hal tersebut menentukan tingkat kesantunan.

Di samping intonasi, kesantunan penggunaan tuturan imperatif dalam bahasa Jawa di Ponpes Putri Sunan Drajat juga dipengaruhi oleh isyarat-isyarat kinesik, meliputi ekspresi wajah, sikap tubuh, gerakan jari jemari, gerakan tangan, ayunan lengan, gerakan pundak, dan gelengan kepala. Misalnya seorang santri/murid mencium tangan seorang pengurus pondok maupun ustadzah ketika bertemu dinilai lebih santun daripada tidak melakukan tindakan itu, begitu pula dengan menundukkan kepala dan tubuh ketika di depan pengurus atau ustadzah dinilai merupakan tindakan yang santun. Isyarat-isyarat kinesik ini berfungsi untuk mempertegas maksud tuturan.

D. Faktor Ungkapan-ungkapan Penanda Kesantunan

Pemakaian penanda kesantunan dalam bertutur juga merupakan faktor penentu kesantunan lingusitik. Beberapa macam ungkapan penanda kesantunan dalam pemakaian tuturan bahasa Jawa di Ponpes Putri Sunan Drajat akan dijelaskan sebagai berikut:

1) Penanda kesantunan tulung

Penggunaan penanda kesantunan tulung sebagai penentuan kesantunan linguistik bertujuan untuk memperhalus maksud tuturan imperatifnya. Dengan digunakannya penanda kesantunan ini tuturan tidak dianggap semata-semata hanya sebagai imperatif yang bermakna permintaan. Seperti terlihat pada contoh berikut:

(68) Tulung gawana rukuhku

’Tolong bawakan mukenahku’

’Tolong bawakan mukenahku’

2) Penanda kesantunan ayo

Biasanya penanda kesantunan ayo digunakan di awal tuturan, namun ada pula yang menggunakan ayo di akhir tuturan. Makna imperatif yang dikandung dalam tuturan dengan menggunakan tuturan ayo mempunyai makna ajakan, seperti pada tuturan berikut:

(69) Ayo sarapan dhisik!

’Ayo sarapan dulu!’

’Ayo kita sarapan dulu!’

Tuturan tersebut akan dianggap lebih sopan daripada tuturan berikut:

(70) Sarapan dhisik!

‘Sarapan dulu!’

’Kita sarapan dulu!’

Kedua tuturan tersebut sebenarnya mempunyai maksud sama, yakni mengajak mitra tutur untuk sarapan. Namun ayo dalan tuturan tersebut mempengaruhi tingkat kesantunan.

3) Penanda kesantunan coba

Dengan menggunakan penanda kesantunan coba sebagai penentu kesantunan linguistik tuturan imperatif, maka akan menjadikan tuturan tersebut bermakna lebih halus dan lebih santun daripada yang tanpa menggunakan kata coba. Seperti pada tuturan berikut:

(71) Coba delo’en metu

’Coba lihatlah keluar’

’Coba, keluarlah’

(72) Delo’en metu

’Lihatlah keluar’

’Keluarlah’

Konteks tuturan:

Tuturan tersebut diucapkan santri kepada temannya di dalam kamar ketika mendengar ada suara benda jatuh di luar kamar.

Tuturan (71) mengandung makna imperatif lebih halus dan lebih santun jika dibandingkan dengan tuturan (72).

4) Penanda kesantunan mbokya

Dengan digunakannya penanda kesantunan mbokya, tuturan imperatif yang semula merupakan imperatif suruhan dapat berubah menjadi imperatif yang bermakna himbauan atau saran. Seperti tampak pada contoh berikut:

(73) Mangan sak ono’e!

’Makan seadanya!’

’Makan seadanya saja!’

(74) Mbokya mangan sak ono’e!

’Hendaklah makan seadanya!’

’Sebaiknya makan seadanya saja!’

Konteks tuturan:

Tuturan di atas disampaikan seorang pengurus pondok kepada temannya yang akan membeli makan di luar pondok karena merasa bosan dengan lauknya.

Dari kedua tuturan di atas, tuturan (74) mempunyai kadar kesantunan yang tinggi jika dibandingkan dengan tuturan (73).

5) Penanda kesantunan ndang

Penggunaan penanda kesantunan ndang dalam bahasa Jawa dialek Lamongan mempunyai makna ’segera’ atau ’lekas’. Penanda kesantunan ini sering dipakai untuk memperhalus maksud tuturan imperatif. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada tuturan berikut:

(75) Adus! Selek jama’ah!

’Mandi! Keburu jama’ah!’

’Cepat mandi! Keburu waktunya sholat jama’ah!’

Konteks tuturan:

Tuturan ini diucapkan santri kepada teman sebayanya di kamar/asrama.

(76) Ndang adus! Selek jama’ah!

’Segera mandi! Keburu jama’ah!

‘Cepat mandi! Keburu waktunya sholat jama’ah!’

Konteks tuturan:

Tuturan tersebut diucapkan seorang santri kepada adik angkatannya di kamar/asrama.

Tuturan (75) kadar tuntutannya lebih tinggi jika dibandingkan dengan tuturan (76), sehingga tuturan (75) memiliki kesantunan yang lebih rendah jika dibandingkan dengan tuturan (76).

3.1.2.2 Kesantunan Pragmatik

Pada pembahasan sebelumnya sudah dijelaskan bahwa makna pragmatik imperatif di dalam bahasa Jawa dialek Lamongan dapat diwujudkan dengan tuturan yang bermacam-macam. Dari data yang diperoleh, ditemukan bahwa makna pragmatik imperatif banyak diungkapkan dalam tuturan tidak langsung yang berwujud nonimperatif, yaitu tuturan deklaratif dan tuturan interogatif. Penggunaan tuturan nonimperatif untuk menyatakan makna pragmatik imperatif itu biasanya mengandung unsur ketidaklangsungan. Dengan demikian dalam tuturan-tuturan nonimperatif itu terkandung aspek kesantunan pragmatik imperatif.

A. Kesantunan Pragmatik Imperatif Dalam Tuturan Deklaratif

Kesantunan pragmatik imperatif dalam tuturan deklaratif dapat dibedakan menjadi bermacam-macam.

A.1 Tuturan Deklaratif Bermakna Pragmatik Imperatif Perintah

Tuturan dengan konstruksi deklaratif banyak digunakan untuk menyatakan makna pragmatik imperatif suruhan karena dengan tuturan itu muka si mitra tutur dapat terselamatkan. Cara menyatakan yang demikian dapat dianggap sebagai alat penyelamat muka karena maksud itu tidak ditujukan secara langsung kepada si mitra tutur. Coba perhatikan contoh berikut:

(77)Kerjakna dhewe-dhewe!

‘Kerjakan sendiri-sendiri!’

’Kerjakan soalnya sendiri-sendiri!’

Konteks tuturan:

Tuturan tersebut disampaikan ustadzah kepada santri (murid)nya saat ulangan harian.

Tuturan di atas merupakan tuturan imperatif yang digunakan untuk menyatakan makna suruhan. Selain itu penutur juga bisa menggunakan tuturan yang berkonstruksi deklaratif seperti tampak pada contoh berikut:

(78)Sapa sing contohan kalih kancane dianggap gagal

’Siapa yang contekan dengan temannya dianggap gagal’

‘Siapa diantara kalian yang contekan dengan temannya, dianggap gagal!’

Konteks tuturan:

Sama dengan konteks tuturan (77).

A.2 Tuturan deklaratif bermakna pragmatik imperatif ajakan

Tuturan deklaratif bermakna pragmatik imperatif ajakan sering dituturkan dengan menggunakan tuturan imperatif dengan penanda kesantunan ayo. Hal ini dapat dilihat pada contoh berikut:

(79) Ayo njupuk sarapan nang kantin

’Ayo mengambil sarapan ke kantin’

’Ayo kita ambil sarapan ke kantin’

Konteks tuturan:

Tuturan ini diucapkan santri kepada teman sekamarnya yang saat itu belum mengambil makanan di kantin untuk sarapan.

Dalam kegiatan bertutur sehari-hari, makna pragmatik imperatif ajakan ternyata banyak diwujudkan dengan menggunakan tuturan yang berkonstruksi deklaratif. Seperti pada dialog berikut:

(80) Santri 1: Mbak, aku durung sarapan iki. Kepingin nang kantin males gak ana

kancane.

’Mbak, aku belum sarapan ini. Ingin ke kantin malas tidak ada

temannya.’

’Aku sekarang belum sarapan mbak. Ingin mengambil sarapan ke

kantin tapi malas tidak ada temannya.

Santri 2: Iya, aku yo durung jupuk sarapan nang kantin.

’Iya, aku juga belum mengambil sarapan ke kantin.’

’Iya, aku juga belum mengambil sarapan ke kantin.’

A.3 Tuturan deklaratif bermakna pragmatik imperatif larangan

Tuturan bermakna imperatif larangan imperatif dengan penanda kesantunan “ojo” yang maknanya ‘jangan’. Selain itu imperatif larangan juga ditandai oleh pemakain bentuk pasif gak oleh ‘tidak boleh’ dan’gak diolehi’ tidak diperbolehkan pada tuturan. Seperti pada contoh berikut:

(81) Ojo nganjir ae neng kono lek atene ngaji

‘Jangan berdiri saja disitu kalau akan mengaji’

’Jangan berdiri saja disitu kalau mau mengaji di kelas’

Konteks tuturan:

Tuturan tersebut disampaikan ketua pondok saat mendapati ada seorang santri yang akan mengaji dan masih berdiri di depan pintu kamar.

(82) Lek poso gak oleh ngrasani

’Kalau puasa tidak boleh menggunjing’

’Kalau sedang puasa tidak boleh menggunjing’

Konteks tuturan:

Tuturan tersebut disampaikan ustadz kepada murid-muridnya saat mengajar.

Kedua tuturan di atas berbeda dengan imperatif larangan secara pragmatik berikut ini:

(83) Babi iku panganan haram

‘Babi itu makanan haram’

‘Babi itu kalau dimakan haram hukumnya’

Konteks tuturan:

Tuturan tersebut disampaikan seorang ustadz kepada santri di ruang kelas saat mengaji.

Ketidaklangsungan pada tuturan (83) lebih jelas daripada tuturan (81) dan (82). Dengan demikian tuturan tersebut tingkat kesantunannya lebih tinggi jika dibandingkan dengan tuturan sebelumnya.

B. Kesantunan Pragmatik Imperatif Dalam Tuturan Interogatif

Selain dapat diwujudkan dengan tuturan deklaratif, makna pragmatik imperatif juga dapat diwujudkan dengan tuturan interogatif. Hal ini banyak ditemukan dalam percakapan sehari-hari santri.

Dengan digunakannya tuturan kerkonstruksi interogatif dalam menyatakan makna pragmatik imperatif itu dapat mengandung makna ketidaklangsungan yang cukup besar. Hal ini dapat dilihat pada bermacam-macam tuturan berikut:

B.1 Tuturan interogatif bermakna pragmatik imperatif perintah

Dalam kegiatan bertutur yang sebenarnya, tuturan interogatif dapat pula digunakan untuk menyatakan maksud atau makna pragmatik imperatif. Makna pragmatik imperatif perintah dapat diungkapkan dengan tuturan interogatif ini. Seperti tampak pada contoh berikut:

(84) Santri 1: Lek ngajine wis mari tipe dipateni ae.

’Kalau mengajinya sudah selesai tape-nya dimatikan saja.’

’Kalau pengajiannya sudah selesai sebaiknya tapenya dimatikan saja.’

Santri 2: Iya mbak.

’Iya mbak.’

’Iya mbak.’

Konteks tuturan:

Dituturkan oleh sesama pengurus di kamar pengurus setelah mendengarkan pengajian kiai Ghofur melalui radio.

(85) Santri 1: Ngajinya wis mari ta? (sambil melirik ke radio)

’Mengajinya sudah selesai ta?’

’Apakah mengajinya sudah selesai?’

Santri 2: Iya mbak tak patenane.

‘Iya mbak, aku matikan.’

’Iya mbak, aku matikan radionya.’

Konteks tuturan:

Sama dengan konteks tuturan (84).

Dari tuturan di atas bisa dilihat bahwa tuturan dengan maksud imperatif perintah dapat diungkapkan dengan menggunakan kosntruksi interogatif. Tuturan (85) mempunyai ciri ketidaklangsungan, sehingga tuturan (85) dianggap lebih sopan daripada tuturan (84).

B.2 Tuturan interogatif bermakna pragmatik imperatif ajakan.

Untuk lebih jelasnya dilahkan perhatikan contoh berikut:

(86) Ayo sarapan dhisik!

’Ayo sarapan dulu!’

’Ayo sarapan dulu!’

Konteks tuturan:

Tuturan tersebut diucapkan santri kepada temannya yang saat itu mengerjakan PR dan dia masih belum sarapan.

Tuturan di atas bisa diketahui bahwa maksud imperatif ajakan dinyatakan dengan bentuk tuturan imperatif. Digunakannya penanda kesantunan ayo jelas menandakan bahwa tuturan itu secara linguistik bermakna ajakan. Tuturan dengan maksud yang sama bila diwujudkan dalam tuturan nonimperatif mengandung ketidaklangsungan yang tinggi. Dengan demikian maka tuturan tersebut memiliki kadar kesantunanyang tinggi pula. Seperti pada contoh bentuk tuturan interogatif di bawah ini:

(87) Wetengku lesu, sampeyan wis sarapan?

’Perutku lapar, kamu sudah sarapan?’

’Perutku lapar, apakah kamu sudah sarapan?’

Konteks tuturan:

Sama dengan konteks tuturan (86).

B.3 Tuturan interogatif bermakna pragmatik imperatif permintaan

Dalam kegiatan bertutur santri sehari-hari, banyak ditemukan bahwa tuturan interogatif dapat digunakan untuk menyatakan maksud imperatif permohonan. Dengan demikian maka makna kesantunan yang dimunculkan dari tuturan itu lebih tinggi daripada tuturan imperatif.

(88) Bu, sampeyan ngajara ambek aku semester ngarep.

‘Bu, anda mengajarlah bersama saya semester depan.’

‘Bu mengajarlah bersama saya ya semester depan.’

Konteks tuturan:

Tuturan tersebut dituturkan ustadzah kepada temannya sesama ustadzah di kantor Diniyah.

(89) Aku njaluk sepura ya, sampeyan ojo muring-muring maneh.

‘Aku meminta maaf ya, kamu jangan marah lagi.’

’Aku minta maaf ya, kamu jangan marah lagi ke aku.’

Konteks tuturan:

Tuturan tersebut dituturkan seorang santri kepada temannya karena telah memecahkan gelas kesayangannya.

Dengan digunakannya tuturan interogatif seperti pada tuturan berikut ini maksud imperatif permohonan yang sama akan dapat diungkapkan lebih santun lagi.

(88a) Bu, sampeyan iso ngajar ambek aku semester ngarep?

‘Bu, Anda bisa mengajar bersama saya semester depan?’

‘Apakah semester depan anda bisa mengajar bersama saya?’

Konteks tuturan:

Sama dengan konteks tuturan (88).

(89a) Apa aku sek disepura mbak Rini? InsyaAllah mene-mene gak tak baleni.

‘Apa aku masih dimaafkanmbak Rini? InsyaAllah besok-besok tidak aku ulangi.’

‘Apakah mbak Rini masih memaafkan aku? InsyaAllah nanti tidak aku ulangi.’

Konteks tuturan:

Sama dengan konteks tuturan (89).

B.4 Tuturan interogatif bermakna pragmatik imperatif larangan

Pada lazimnya makna imperatif larangan dalam bahasa Jawa dengan menggunakan kata ”ojo” atau ”gak oleh” untuk menyatakan imperatif larangan dalam sebuah tuturan. Namun dalam komunikasi keseharian santri, banyak dijumpai makna imperatif larangan dengan konstruksi tuturan nonimperatif. Seperti tampak pada contoh berikut:

(90) Apa sampeyan pengen kamare sampeyan berantakan ngene terus?

’Apa kamu ingin kamarnya kamu berantakan seperti ini terus?’

’Apakah kamu ingin kamarmu terlihat berantakan seperti ini terus?’

Konteks tuturan:

Tuturan tersebut dituturkan oleh seorang pengurus pondok yang mendapati kamar santri yang berantakan dan masih belum disapu.

(91) Sapa sing kepingin dita’zir mergo kari jama’ah?

’Siapa yang ingin dihukum karena terlambat jama’ah?’

’Siapa yang ingin dihukum karena terlambat ikut sholat jama’ah?’

Konteks tuturan:

Tuturan tersebut dituturkan oleh seorang pengurus kepada pada santri ketika memberi pidato dalam acara khitobah.

Bentuk imperatif santri terhadap ustadzah dan pengurus hampir bisa dipastikan tidak ada. Salah satu faktor penyebabnya yaitu norma-norma di pesantren yang mengharuskan santri untuk selalu hormat dan patuh kepada ustadzah dan pengurus, mengingat status ustadzah dan pengurus yang lebih tinggi daripada santri. Selain itu juga santri diharuskan mepunyai sikap isin, wedi dan sungkan ketika berkomunikasi dengan ustadzah dan pengurus. Hal inilah yang mengharuskan santri untuk menggunakan strategi kesantunan. Ulasan mengenai strategi kesantunan dilihat dari tingkat ilmu dan status kelembagaan akan dibahas lebih lanjut pada pembahasan selanjutnya.

Wujud kesantunan imperatif antarsantri putri Pondok Pesantren Sunan Drajat bisa dilihat pada tabel berikut.

Tabel 1. Wujud kesantunan imperatif antarsantri putri Pondok Pesantren

Sunan Drajat.

W

U

J

U

D

K

E

S

A

N

T

U

N

A

N

I

M

P

E

R

A

T

I

F

Wujud Imperatif

Imperatif formal

Imperatif Aktif

Imperatif aktif tidak transitif

Imperatif aktif transitif

Imperatif Pasif

verba + -en

verba + -na

di- + verba + -ae

Imperatif Pragmatik

Tuturan bermakna imperatif desakan

Tuturan bermakna imperatif bujukan

Tuturan bermakna imperatif himbauan

Tuturan bermakna imperatif persilaan

Tuturan bermakna imperatif larangan

Tuturan bermakna imperatif perintah

Tuturan bermakna imperatif permintaan

Tuturan bermakna imperatif ”ngelulu”

Kesantunan Imperatif

Kesantunan Linguistik

Faktor panjang pendek tuturan

Faktor urutan tutur

Faktor intonasi tuturan

Faktor isyarat kinesik

Faktor ungkapan penanda kesantunan (tulung, ayo, coba, mbok/mbokya, ojo, ndang)

Kesantunan Pragmatik

Kesantunan imperatif dalam tuturan deklaratif

Kesantunan imperatif dalam tuturan interogatif

3.2 Makna Dasar Pragmatik Imperatif Dalam Interaksi Antarsantri Putri Pondok Pesantren Sunan Drajat Dilihat Dari Tingkat Ilmu dan Status Kelembagaan

Pembahasan sebelumnya telah dirinci mengenai jenis-jenis tuturan yang mengandung makna pragmatik imperatif menjadi delapan makna, yaitu imperatif desakan, bujukan, himbauan, persilaan, larangan, perintah, permintaan dan ”ngelulu”. Untuk mengetahui makna dasar atau pokok dari delapan makna tersebut perlu dibahas faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya suatu tuturan yang akhirnya juga mempengaruhi jenis makna pragmatik imperatif.

Hal-hal yang dimungkinkan mempengaruhi jenis makna pragmatik imperatif, antara lain secara umum adalah faktor kedudukan atau status sosial penutur (01) dan mitra tutur (02) dalam suatu peristiwa tutur. Perbedaan status sosial tersebut berlaku pada perbedaan tingkat ilmu (santri dan ustadzah) dan status kelembagaan (santri dan pengurus). Pada perbedaan tingkat ilmu bisa dilihat bagaimana interaksi santri terhadap santri, santri terhadap ustadzah atau sebaliknya, dan ustadzah terhadap ustadzah. Sedangkan pada status kelembagaan terlihat pada interaksi santri terhadap santri, santri terhadap pengurus atau sebaliknya, dan pengurus terhadap pengurus. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat sebagai berikut:

v Tingkat ilmu

Santri santri

Santri Ustadzah

Ustadzah Ustadzah

v Status kelembagaan

Santri Santri

Santri Pengurus

Pengurus Pengurus

Selain itu, tuturan perintah atau imperatif yang telah diucapkan oleh penutur akan mengakibatkan beban bagi mitra tutur untuk melakukan suatu tindakan. Seberapa jauh 02 dapat menghindar dari beban itu atau seberapa jauh 02 boleh memilih melakukan atau tidak dari tindakan itu, juga siapa yang mendapat manfaat/faedah dari terjadinya tuturan imperatif itu. Berdasarkan hal-hal ini maka kemungkinan bisa diketahui apa jenis makna dasar pragmatik imperatif dari ketujuh makna imperatif yang telah dikemukakan sebelumnya.

Kedudukan 01 terhadap 02 ditentukan oleh faktor-faktor sosial yang dimiliki oleh 01 maupun 02, yaitu tingkat ilmu dan status kelembagaan (apakah 01 berada di atas 02 atau di bawah 02). Bentuk kedudukan 01 dan 02 dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu:

a. 01 dan 02 mempunyai kedudukan yang sama (à)

Dilihat dari tingkat ilmu: – Santri dengan santri

– Ustadzah dengan ustadzah

Dilihat dari status kelembagaan: – Santri dengan santri

– Pengurus dengan pengurus

b. Kedudukan 01 lebih rendah daripada 02 (ä)

Dilihat dari tingkat ilmu : – Santri dengan ustadzah

Dilihat dari status kelembagaan : – Santri dengan pengurus

c. Kedudukan 01 lebih tinggi daripada 02 (æ)

Dilihat dari tingkat ilmu : – Ustadzah dengan santri

Dilihat dari status kelembagaan : – Pengurus dengan santri

Ketiga hubungan ini dibedakan pada faktor-faktor sosial 01 dan 02, yaitu berdasarkan tingkat ilmu dan status kelembagaan. Seorang ustadzah akan merasa mempunyai kedudukan lebih tinggi daripada santrinya (muridnya). Demikian juga berlaku pada seorang pengurus kepada santrinya selaku sebagai orang yang dipimpinnya.

Kedudukan 01 terhadap 02 ini menurut penulis juga menentukan jenis makna dari tuturan pragmatik imperatif. Satu tuturan imperatif yang diucapkan oleh 01 dengan kedudukan 01 dan 02 sama (à) akan berbeda jenis makna pragmatik imperatifnya bila diucapkan oleh 01 yang kedudukannya lebih rendah (ä) atau yang lebih tinggi (æ) daripada 02. Perhatikan contoh berikut.

Sambil berkipas-kipas sebagai tanda kepanasan, seorang ustadzah sedang berbincang-bincang dengan ustadzah dan santri lainnya dalam suatu ruangan ketika sedang mengaji bersama-sama. Dan seorang ustadzah tersebut menggunakan kalimat yang mengandung makna imperatif untuk membukakan jendela ruangan dengan menggunakan tuturan berikut:

(92) Ruangan iki puanas

’Ruangan ini panas sekali’

Jika dilihat lebih teliti, satu tuturan pragmatik imperatif ini mengandung jenis makna lebih dari satu bila tanpa melihat ketiga jenis hubungan kedudukan 01 dan 02 di atas. Hal ini dapat dibuktikan dengan mengubah tuturan tersebut menjadi parafrase seperti di bawah ini.

1. Saya menyuruhmu untuk membuka jendela karena ruangannya panas sekali.

2. Saya memintamu untuk membuka jendela karena ruangannya panas sekali.

Kalimat (1) yang mengandung makna suruhan dimungkinkan dituturkan oleh 01 yang mempunyai kedudukan lebih tinggi daripada 02 (æ), yaitu ustadzah terhadap santrinya. Kalimat (2) yang mempunyai makna permintaan dimungkinkan dituturkan oleh 01 yang mempunyai kedudukan sama dengan 02 (à), yaitu teman sesama ustadzah dalam ruangan itu. Jika tuturan tersebut diucapkan dalam konteks antara guru dan murid pada suatu sekolah (bukan di lingkup pesantren), makna yang dimungkinkan timbul bisa juga bermakna permohonan dengan dibuat parafrase Saya memohon pada anda untuk membuka jendela karena ruangannya panas sekali. Kalimat yang bermakna permohonan tersebut dimungkinkan dituturkan oleh 01 yang mempunyai kedudukan lebih rendah daripada 02 (ä). Namun tidak demikian untuk lingkungan pesantren. Seorang santri dinilai tidak santun jika memerintah ustadzahnya, meskipun makna yang terkandung dalam tuturan tersebut bermakna permohonan sekalipun. Hampir bisa dipastikan hal itu tidak pernah terjadi di pesantren, meskipun jika tuturan tersebut merupakan tuturan tak langsung (wawancara dengan santri, Mei 2006).

Adanya jenis-jenis makna imperatif pragmatik seperti telah dikemukakan sebelunya berhubungan erat dengan sopan santun. Dalam imperatif (perintah) selalu ada orang yang mendapatkan beban dan ada orang yang mendapatkan manfaat dari tuturan perintah itu. Semakin mitra tutur tidak terbebani untuk melakukan tindakan dari perintah penutur maka semakin sopan tuturan perintah itu. Sebagaimana dikemukakan pada bab sebelumnya, Leech membagi tiga skala yang menunjukkan derajat sopan santun. Skala tersebut ialah skala untung-rugi, skala pilihan, dan skala kelangsungan. Ketiga skala pragmatik ini akan menentukan jenis makna pragmatik imperatif.

Isi tuturan imperatif (ilokusi) mengacu pada tindakan yang akan dilaksanakan oleh pembicara atau oleh mitra wicara. Setelah suatu perintah diucapkan oleh seorang penutur selalu ada pihak yang diuntungkan (manfaat) dan dirugikan (beban) dari tindakan yang diakibatkan oleh tuturan itu, apakah pihak itu adalah pihak 01, pihak 02 atau orang ketiga. Skala untung-rugi ini sebenarnya terdiri dari dua skala yang berbeda, yaitu untung rugi bagi 01 dan untung rugi bagi 02. Secara umum keadaan yang menguntungkan bagi 01 biasanya merugikan bagi 02, dan yang merugikan bagi 01 biasanya menguntungkan bagi 02.

Berdasarkan anggapan penutur, isi tuturan imperatif dapat diperingkatkan pada sebuah skala untung rugi. Perhatikan contoh kalimat berikut ini:

Merugikan Kurang

mitra tutur santun

(93) Gawaen kitab iki!

’Bawalah kitab ini!’

’Bawakan kitab ini!’

(94) Gawa’na kitab iki!

’Bawakan kitab ini!’

’Bawakan kitab ini!’

(95) Digawa ae kitab iki!

’Dibawa saja kitab ini!’

’Bawa saja kitab ini!’

(96) Nyantaia ae bar ujian!

’Menyantailah saja setelah ujian!’

’Santai saja abis ujian!’

(97) Njupu’a jajanku maneh!

’Mengambillah jajanku lagi!

’Ambillah jajanku lagi!’

Menguntungkan Lebih

mitra tutur santun

Isi tuturan imperatif pada contoh 93-97 di atas semakin ke bawah semakin menguntungkan mitra tutur, dan sebaliknya semakin ke atas semakin merugikan mitra tutur. Demikian pula, semakin menguntungkan mitra tutur maka semakin santun tuturan itu, dan sebaliknya semakin merugikan mitra tutur maka tuturan itu akan semakin tidak santun.

Suatu perintah dari seorang penutur yang menuntut tingkah laku 02 untuk melakukan suatu tindakan, seberapa jauh 02 boleh memilih (manasuka) untuk melakukan atau tidak melakukan tindakan itu. Secara umum semakin tinggi unsur manasuka (pilihan) bagi 02 maka semakin santun tuturan imperatif itu, sebaliknya semakin rendah manasuka 02 maka semakin tidak santun tuturan imperatif itu.

Skala selanjutnya yaitu skala kelangsungan. Semakin tidak langsung tuturan perintah itu maka faktor manasuka (pilihan) 02 untuk memilih tidak melakukan tindakan semakin tinggi, dengan demikian akan semakin santun pula makna imperatif yang dikandungnya. Perhatikan contoh-contoh berikut ini.

Tuturan Kurang

langsung santun

(98) Tutupen lawange!

’Tutuplah pintunya!’

’Tutupkan pintunya!’

(99) Tutupna lawange!

’Tutupkan pintunya!’

’Tutupkan pintunya!’

(100) Angine banter

’Anginnya kencang’

’Anginnya bertiup kencang’

(101) Angine nggarai krekes-krekes

’Anginnya menyebabkan meriang

’Tiupan anginnya menyebabkan meriang’

(102) Gak wedi masuk angin ta mbak?

Tidak takut masuk angin ta mbak?’

’Apa tidak takut masuk angin mbak?’

(103) Sampeyan gak wedi masuk angin ta mbak?

‚Kamu tidak takut masuk angin ta mbak?’

’Apakah tidak takut masuk angin mbak?

Tuturan Lebih

Tidak langsung santun

Contoh 98-103 di atas semakin ke bawah isi tuturan semakin tidak langsung, sehingga semakin santun pula tuturan itu. Sebaliknya semakin ke atas kadar kelangsungannya semakin rendah sehingga tuturan itu semakin kurang santun.

Pada prinsipnya suatu perintah atau imperatif yang diucapkan penutur menuntut suatu tingkah laku dari 02 atau bahkan 01 untuk melakukan sesuatu. Kashiwazaki dalam Roni (2005) mengungkapkan makna dasar ungkapan yang menuntut tingkah laku mitra tutur menjadi tiga, yaitu:

  1. Makna perintah
  2. Makna permintaan
  3. Makna nasehat (rekomendasi)

Pada makna perintah, jika hasil tindakan berfaedah (menguntungkan) bagi 01 maka akan menjadi beban (kerugian) bagi 02, dan jika berfaedah bagi 02 kadang-kadang juga menjadi beban bagi 01. Tetapi dalam makna ini 02 dituntut harus melakukan suatu tindakan. Dengan kata lain faktor pilihan (option) 02 sangat kecil bahkan tidak ada. Perhatikan contoh berikut:

(17) Cepet jama’ah! Jama’ah! Engko kari lho.

’Cepat jama’ah! Jama’ah! Nanti ketinggalan lho.’

‘Cepat berangkat sholat jama’ah! Nanti ketinggalan jama’ah lho.’

Konteks tuturan:

Tuturan tersebut dituturkan oleh seorang ketua kamar kepada santri saat terdengar suara adzan.

(46) Disemak kitabe! Ojo ngomong dewe.

‘Dilihat kitabnya! Jangan ngomong sendiri.’

‘Lihat kitab! Kalian jangan ngomong sendiri.’

Konteks tuturan:

Tuturan tersebut diucapkan ustadzah kepada santri ketika sedang mengajar dan mendapati dua santri yang sedang bicara sendiri.

Pada makna permintaan, hasil dan tindakan 02 berfaedah (menguntungkan) bagi 01 (atau mungkin orang ketiga), dan sebaliknya menjadi beban (merugikan) bagi 02. Pilihan manasuka (option) untuk tidak melakukan atau melakukan suatu tindakan bagi 02 adalah “sedikit banyak ada“. Perhatikan contoh berikut:

(51) Tulung jupukna disketku ijo iku!

’Tolong, ambilkan disketku hijau itu!’

’Tolong, ambilkan disketku warna hijau itu!’

Konteks tuturan:

Tuturan di atas diucapkan santri kepada temannya di ruang kelas.

(52)Ra, tulung jupukna kitabku nang mejo kantor!

’Ra, tolong ambilkan kitabku di meja kantor!’

’Ra, tolong ambilkan kitabku di atas meja kantor!’

Konteks tuturan:

Tuturan di atas diucapkan ustadzah kepada santrinya di ruang kelas.

Pada makna nasehat, hasil dari tindakan 02 berfaedah bagi 02 sendiri. Bagi 01 kadang-kadang tidak menjadi beban, tetapi kadang-kadang juga menjadi beban. Dalam makna ini pilihan manasuka (option) untuk tidak melakukan sesuatu atau melakukan suatu tindakan bagi 02 adalah “ada“.

(25) Nggawea jam lek ujian.

’Pakailah jam kalau ujian.’

’Kalau ujian pakailah jam tangan.’

Konteks tuturan:

Tuturan tersebut terjadi antarsantri ketika akan berangkat ujian.

(27) Lek ana acara muhadhoroh kados ngeten niki, sampeyan ya melua kabeh!

’Kalau ada acara muhadhoroh seperti ini, kamu ya ikut semua!’

’Kalau ada acara muhadhoroh seperti ini, kalian semua hendaknya ikut!’

Konteks tuturan:

Tuturan ini diucapkan seorang pengurus pondok ketika berpidato dalam acara muhadhoroh.

Yang penting diperhatikan juga adalah bahwa masing-masing makna di atas tidak berdiri sendiri secara sempurna, misalnya pada makna permintaan dapat berubah menjadi makna perintah jika faktor option 02 untuk memilih tidak melakukan tindakan adalah tidak ada. Hal ini juga mengimplikasikan bahwa suatu jenis makna pragmatik imperatif dapat berubah seiring dengan peringkat untung-rugi 01 dan 02 serta peringkat option 02, dan perubahan peringkat pada skala pragmatik ini dipengaruhi oleh hubungan atasan/bawahan antara 01 dan 02 seperti telah dijelaskan di atas.

Berdasarkan tiga makna dasar ungkapan yang menuntut tingkah laku mitra tutur seperti yang telah dijelaskan di atas, peneliti berusaha menentukan makna dasar atau makna pokok dari kedelapan makna imperatif dalam interaksi antarsantri.

Dalam penentuan tiga makna dasar ungkapan yang menuntut tingkah laku mitra tutur, penulis menggunakan skala untung-rugi dan skala option pada tuturan langsung (bentuk formal imperatif) seperti yang telah dilakukan Kashiwazaki dalam Roni (1995). Sedangkan skala kelangsungan tidak digunakan karena rumusannya sudah jelas digunakan untuk menentukan tingkat kesantunan tuturan imperatif, semakin suatu tuturan imperatif itu bersifat tidak langsung makaa semakin santun pula tuturan itu.

Berikut ini, dengan berdasarkan skala untung-rugi dan option yang telah ditabelkan di atas, dan dengan mempertimbangkan hubungan atasan-bawahan antara 01 dan 02, satu per satu dari kedelapan jenis makna pragmatik imperatif tersebut dibahas dan ditentukan makna dasarnya.

1) Tuturan Bermakna Pragmatik Imperatif Desakan

Untuk mengetahui jenis makna dasar tuturan bermakna pragmatik imperatif desakan ini perhatikan contoh kalimat berikut:

(15) Ayo cah dimari’na saiki! Engko selek bel.

‘Ayo nak diselesaikan sekarang! Nanti keburu bel.’

’Selesaikan sekarang kerajinan tangannya! Nanti keburu bel.’

Konteks tuturan:

Tuturan ini diungkapkan seorang santri kepada temannya pada saat mereka mengerjakan kerajinan tangan di kamar pondok. Sementara sebentar lagi bel sholat maghrib akan berbunyi.

(16) Ayo! Ndang diwaca nadhame.

’Ayo! Lekas dibaca nadhamnya.’

‘Ayo! Baca nadhamnya.’

Konteks tuturan:

Tuturan tersebut dituturkan seorang ustadzah kepada santri (murid)nya di kelas.

(17) Cepet jama’ah! Jama’ah! Engko kari lho.

’Cepat jama’ah! Jama’ah! Nanti ketinggalan lho.’

‘Cepat berangkat sholat jama’ah! Nanti ketinggalan jama’ah lho.’

Konteks tuturan:

Tuturan tersebut dituturkan oleh seorang pengurus kepada santri saat terdengar suara adzan.

Pada contoh kalimat (16) dan (17) di atas, mitra tutur (02) harus melakukan tindakan dari tuturan 01 itu. Dengan kata lain, pilihan (option) 02 untuk tidak melakukan tindakan tidak ada. Demikian pula pada contoh kalimat (15), mitra tutur secara tidak langsung terbebani untuk menyelesaikan kerajinan tangan saat itu juga. Dengan kata lain kalimat itu mengandung makna pragmatik ”perintah”. Pada tuturan (16) dan (17), 02 “dirugikan” yaitu agar santri membaca dan pergi shalat jama’ah. Sementara pada tuturan (15), 02 diuntungkan dengan terselesainya apa yang mereka kerjakan. Dengan demikian makna dasar pragmatik yang terkandung di dalamnya adalah makna “perintah”.

2) Tuturan Bermakna Imperatif Bujukan

(20) Coba buka’en lemari iku, lek iso tak wei hadiah tepuk tangan.

’Coba bukalah almari itu, kalau bisa aku beri hadiah tepuk tangan.’

’Coba buka almari itu, kalau bisa nanti aku beri hadiah tepuk tangan.’

Konteks tuturan:

Tuturan di atas diucapkan santri kepada teman sekamarnya. Dia menyuruh temannya untuk membuka pintu almari yang sulit dibuka.

(21) Coba Irma, maknanana bab terusane!

’Coba Irma, maknani bab selanjutnya!’

’Coba Irma, maknailah bab selanjutnya!’

Konteks tuturan:

Tuturan di atas diucapkan ustadzah kepada santri yang dianggap pintar ketika dalam kegiatan belajar mengajar di kelas.

(22) Ncul, sapuen tangga kene! Ben enak disawang.

’Ayolah, sapulah tangga disini! Biar enak dilihat.’

’Sapu tangga ini agar terlihat bersih.’

Konteks tuturan:

Tuturan di atas diucapkan pengurus ketika bertemu santri di tangga yang saat itu kotor.

Pada contoh kalimat (20) di atas, mitra tutur merasa terbebani untuk harus membuka almari itu. Sedangkan pada kalimat (21) dan (22), mitra tuturan (02) harus melakukan tindakan dari tuturan 01, pilihan untuk tidak melakukan tindakan tidak ada dalam kedua kalimat tersebut. Pada tuturan kalimat (20), 02 diuntungkan yaitu dengan diberi hadiah tepuk tangan (dalam artian memuji). Sedangkan pada tuturan kalimat (21) dan (22), 02 dirugikan yaitu harus melakukan tindakan memaknani kitab dan menyapu tangga. Dengan demikian makna dasar pragmatik yang terkandung di dalamnya adalah makna “perintah“.

3) Tuturan Bermakna Imperatif Himbauan

(25) Nggawea jam lek ujian.

’Pakailah jam kalau ujian.’

’Kalau ujian pakailah jam tangan.’

Konteks tuturan:

Tuturan tersebut terjadi antarsantri ketika akan berangkat ujian.

(26) Lek gurune nerangna, mbok diperhatikna

’Kalau gurunya menerangkan hendaknya diperhatikan’

’Kalau guru sedang menerangkan pelajaran hendaknya diperhatikan’

Konteks tuturan:

Tuturan ini diucapkan seorang ustadzah kepada santri yang berbicara dengan temannya ketika sedang mengaji.

(27) Lek ana acara muhadhoroh kados ngeten niki, sampeyan ya melua kabeh!

’Kalau ada acara muhadhoroh seperti ini, kamu ya ikut semua!’

’Kalau ada acara muhadhoroh seperti ini, kalian semua hendaknya ikut!’

Konteks tuturan:

Tuturan ini diucapkan seorang pengurus pondok ketika berpidato dalam acara muhadhoroh.

(28) Lek ana rapat mbokya tekaa.

’Kalau ada rapat diharap datanglah.’

’Kalau ada rapat sebaiknya kamu datang.’

Konteks tuturan:

Tuturan ini diucapkan seorang pengurus pondok kepada sesama pengurus pondok yang tidak ikut rapat pada hari sebelumnya.

Pada contoh kalimat (25), (26), (27), dan (28) di atas, pilihan untuk tidak melakukan tindakan sedikit banyak ada. Pada tuturan kalimat-kalimat diatas, mitra tutur diuntungkan. Dengan demikian makna dasar pragmatik yang terkandung di dalamnya adalah makna “nasehat“.

4) Tuturan Bermakna Pragmatik Imperatif Persilaan

(32) Ayo mlebu kamarku dhisik, engko budhal bareng.

’Ayo masuk kamarku dulu, nanti berangkat bersama.’

’Masuklah kamarku dulu, nanti kita berangkat bersama.’

Konteks tuturan:

Tuturan ini diucapkan santri kepada temannya di depan kamar ketika akan berangkat sekolah.

(33) Ayo lenggah sing rapi!

’Ayo duduk yang rapi!’

‘Ayo semuanya duduk yang rapi!’

Konteks tuturan:

Tuturan ini diucapkan ustadzah kepada santri-santrinya di kelas saat akan dibagikan hasil ujian.

(34) Santri-santri mangke jam enem ro’an sedanten! Annadhofatu minal iman.

’Santri-santri nanti jam enam kerja bakti semua! Kebersihan itu sebagian dari

iman.’

’Bagi para santri nanti jam enam diharapkan kerja bakti! Kebersihan itu sebagian

dari iman.’

Konteks tuturan:

Tuturan ini diucapkan pengurus melalui mikrofon kepada semua santri saat akan diadakan kerja bakti masal.

(35) Mbak Dwi, monggo!

’Mbak Dwi, silahkan!’

’Silahkan makan bersama kita mbak Dwi!’

Konteks Tuturan:

Tuturan tersebut diucapkan santri yang sedang makan di dalam kamar bersama teman-temannya, dan melihat ketua pondok lewat di depan kamar.

Pada contoh kalimat (32), (33), (34), dan (35) di atas, pilihan untuk tidak melakukan tindakan ada. Pada tuturan kalimat-kalimat diatas, mitra tutur diuntungkan, kecuali kalimat (35) dimana penutur dirugikan. Dengan demikian makna dasar pragmatik yang terkandung di dalamnya adalah makna “nasehat“.

5) Tuturan Bermakna Pragmatik Imperatif Larangan

Dalam bahasa Jawa dialek Lamongan, imperatif larangan biasanya menggunakan penanda kesantunan ojo yang berarti jangan. Pemakaian tuturan dengan penanda kesantunan itu dapat dilihat pada contoh berikut:

(40) Ojo ndele buku neng kono.

’Jangan menaruh buku di situ.’

’Jangan menaruh buku di tempat itu.’

Konteks tuturan:

Tuturan ini disampaikan santri kepada teman sekamarnya di kamar asrama.

(41) Lek diterangna, mpun rameh.

‘Kalau diterangkan, jangan ramai.’

‘Kalau gurunya sedang menerangkan, kalian jangan ramai.’

Konteks tuturan:

Tuturan tersebut diucapkan ustadzah kepada murid-muridnya di kelas.

(42) Ojo ijin bolak-balik!

’Jangan ijin bolak-balik!’

’Jangan minta ijin terlalu sering!’

Konteks tuturan:

Tuturan ini disampaikan pengurus kepada santri di kantor pengurus saat ada santri minta ijin.

Tuturan jenis ini juga bisa berbentuk tuturan nonimperatif, yakni deklaratif dan interogatif. Contoh:

(43) Ruanganee koyo pasar.

’Ruangannya seperti pasar’

’Ruangan ini ramai seperti pasar’

Konteks tuturan:

Tuturan ini disampaikan pengurus kepada santri di ruangan saat acara khitobah akan dimulai.

(44) Tempat sampahe gak ana ta?

’Tempat sampahnya tidak ada ta?’

‘Apakah tidak ada tempat sampahnya?’

Konteks tuturan:

Tuturan tersebut diucapkan pengurus kepada santri saat mendapati ada santri yang membuang sanpah sembarangan.

Pada contoh kalimat (40), (41), (42) dan (43) di atas, mitra tutur (02) harus melakukan tindakan dari tuturan 01. Dengan kata lain, pilihan (option) 02 untuk tidak melakukan tindakan tidak ada. Sedangkan pada kalimat (43), pilihannya ada meskipun kecil. Pada tuturan (40), (41), (42) dan (44), 02 “dirugikan” yaitu agar santri tidak menaruh buku di sembarang tempat, tidak ramai, tidak sering ijin, dan tidak membuang sampah sembarangan. Dengan demikian makna dasar pragmatik yang terkandung di dalamnya adalah makna “perintah”.

6) Tuturan Bermakna Pragmatik Imperatif Perintah

(45) Menenga! Ana adzan.

’Diam! Ada adzan.’

‘Diam! Sedang ada suara adzan berkumandang.’

Konteks tuturan:

Tuturan di atas diucapkan santri kepada temannya yang berbicara saat terdengar suara adzan.

(46) Disemak kitabe! Ojo ngomong dewe.

‘Dilihat kitabnya! Jangan ngomong sendiri.’

‘Lihat kitab! Kalian jangan ngomong sendiri.’

Konteks tuturan:

Tuturan tersebut diucapkan ustadzah kepada santri ketika sedang mengajar dan mendapati dua santri yang sedang bicara sendiri.

(47) Lungguh! Kene’ ta’zir kok terus.

’Duduk! Kena hukuman kok terus.’

’Duduk! Masa kena hukuman kok terus.’

Konteks tuturan:

Tuturan di atas diucapkan pengurus keamanan kepada santri yang sering melanggar peraturan pondok.

(48) Mrenea! Karo sampeyan gawakna buku syahriyah iku!

‘Kesinilah! Sekalian kamu bawakan buku SPP itu!’

’Kesini! Sekalian sambil bawakan buku SPP itu!’

Konteks tuturan:

Tuturan tersebut diucapkan pengurus kepada temannya yang posisinya agak jauh dari dia.

Pada contoh kalimat (45), (46), dan (47) di atas, mitra tutur (02) harus melakukan tindakan dari tuturan 01. Dengan kata lain, pilihan (option) 02 untuk tidak melakukan tindakan tidak ada. Sedangkan pada kalimat (48), pilihannya ada meskipun kecil. Pada tuturan (46), (47) dan (48), 02 “dirugikan” yaitu agar santri memperhatikan 01, duduk, dan menghampiri 01 dan membawa buku syahriyah. 01 disini juga merasa diuntungkan. Sementara pada tuturan (45), 02 diuntungkan dengan mendengarkan adzan. Dengan demikian makna dasar pragmatik yang terkandung di dalamnya adalah makna “perintah”.

7) Tuturan Bermakna Pragmatik Imperatif permintaan

(51) Tulung jupukna disketku ijo iku!

’Tolong, ambilkan disketku hijau itu!’

’Tolong, ambilkan disketku warna hijau itu!’

Konteks tuturan:

Tuturan di atas diucapkan santri kepada temannya di ruang kelas.

(52) Ra, tulung jupukna kitabku nang mejo kantor!

’Ra, tolong ambilkan kitabku di meja kantor!’

’Ra, tolong ambilkan kitabku di atas meja kantor!’

Konteks tuturan:

Tuturan di atas diucapkan ustadzah kepada santrinya di ruang kelas.

(53) Dik, tulung jalukna es teh rong gelas nang kantin!

’Dik, tolong mintakan es teh dua gelas ke kantin!’

’Dik, tolong mintakan es teh dua gelas ke penjaga kantin!’

Konteks tuturan:

Tuturan di atas diucapkan pengurus kepada santri. Saat itu ada tamu dari luar kota.

(54) Ncul ta mbak, gantikna aku qiro’ah!

’Ayolah mbak, gantikan aku qiro’ah!’

’Mbak gantikan aku qiro’ah!’

Konteks tuturan:

Tuturan di atas diucapkan pengurus kepada pengurus untuk menggantikan qiro’ah pada acara muhadhoroh, dikarenakan santri tersebut berhalangan.

Pada contoh kalimat (51), (52), (53) dan (54) di atas, mitra tutur (02) tidak harus melakukan tindakan dari tuturan 01. Dengan kata lain, pilihan (option) 02 untuk tidak melakukan tindakan sedikit banyak ada. Pada keempat tuturan tersebut jelas terlihat bahwa 02 “dirugikan” yaitu agar santri memgambil disket, mengambil kitab, meminta es teh ke kantin, dan menggantikan qiro’ah. Sementara 02 diuntungkan oleh apa yang akan dilakukan 01. Dengan demikian makna dasar pragmatik yang terkandung di dalamnya adalah makna “permintaan”.

8) Tuturan Bermakna Pragmatik Imperatif ”ngelulu”

(57) Ncul terusna!

’Ayo teruskan!’

’Ayo teruskan!

Konteks tuturan:

Tuturan tersebut diucapkan santri kepada temannya ketika didapati sedang mencoret-coret buku santri tersebut.

(58) Mene lek ngaji gak usah nyemak maneh ya!

’Besok kalau mengaji tidak usah melihat lagi ya!’

’Besok kalau sedang mengaji tidak usah memperhatikan guruya ya!’

Konteks tuturan:

Tuturan tersebut diucapkan ustadzah kepada santri karena tidak lancar membaca kitab kuning.

(59) Sesuk lek mbalik nang pondok nelato maneh ya!

’Nanti kalau kembali ke pondok telatlah lagi ya!’

’Lain kali kalau kembali ke pondok datang telat lagi saja ya!’

Konteks tuturan:

Tuturan tersebut diucapkan pengurus kepada seorang santri yang sering telat datang ke pondok selesai pulang.

Pada prinsipnya tuturan bermakna pragmatik imperatif ngelulu adalah tuturan perintah untuk tidak melakukan sesuatu (melarang), namun dalam pengucapannya penutur menyuruh mitra tutur untuk melakukan sesuatu. Pada contoh kalimat (57), (58), dan (59) di atas, mitra tutur (02) harus melakukan tindakan dari tuturan 01. Dengan kata lain, pilihan (option) 02 untuk tidak melakukan tindakan tidak ada. Pada tuturan di atas, 02 “dirugikan”. Dengan demikian makna dasar pragmatik yang terkandung di dalamnya adalah makna “perintah”.

Jenis-jenis makna dasar pragmatik imperatif beserta penggunaannya dalam interaksi antarsantri putri Pondok Pesantren Putri Sunan Drajat, selengkapnya bisa dilihat pada tabel berikut.

Tabel 2. Jenis-jenis makna dasar pragmatik imperatif dalam interaksi

antarsantri putri Pondok Pesantren Sunan Drajat.

Fungsi (makna) dasar

Skala untung-rugi

penutur (01)

dan mitra tutur (02)

Skala pilihan (option) bagi mitra tutur

Jenis makna pragmatik

Dilihat berdasarkan

Terefleksi pada tuturan

Perintah

Penutur: untung

Mitra tutur: rugi

Atau

Penutur: kadang rugi

Mitra tutur: untung

Kecil bahkan tidak ada

Desakan

Bujukan

Larangan

Perintah

Ngelulu

Tingkat ilmu

Status kelembagaan

Tingkat ilmu

Status kelembagaan

Tingkat ilmu

Status kelembagaan

Tingkat ilmu

Status kelembagaan

Tingkat ilmu

Status kelembagaan

Santri – santri

Ustadzah – santri

Santri – santri

Pengurus – santri

Santri – santri

Ustadzah – santri

Santri – santri

Pengurus – santri

Santri – santri

Ustadzah – santri

Santri – santri

Pengurus – santri

Santri – santri

Ustadzah – santri

Santri – santri

Pengurus – santri

Pengurus – pengurus

Santri – santri

Ustadzah – santri

Santri – santri

Pengurus – santri

Permintaan

Penutur: untung

Mitra tutur: rugi

Sedikit banyak ada

Permintaan

Tingkat ilmu

Status kelembagaan

Santri – santri

Ustadzah – santri

Santri – santri

Pengurus – santri

Pengurus – pengurus

Nasehat/ rekomendasi

Penutur: kadang rugi

Mitra tutur: untung

Ada

Himbauan

Persilaan

Tingkat ilmu

Status kelembagaan

Tingkat ilmu

Status kelembagaan

Santri – santri

Ustadzah – santri

Santri – santri

Pengurus – santri

Pengurus – pengurus

Santri – santri

Ustadzah – santri

Santri – santri

Pengurus – santri

Santri – pengurus

3.3 Strategi Kesantunan Imperatif Antarsantri Putri Pondok Pesantren Sunan Drajat Dilihat Dari Tingkat Ilmu dan Status Kelembagaan

Kesantunan berbahasa sangat dipengaruhi ruang lingkup pesantren yang di dalamnya terdapat beberapa aturan atau norma yang harus ditaati oleh santri, baik tertulis maupun yang bersifat sosial atau yang biasa disebut dengan konteks (konteks sosial dan konteks situasi). Sebagaimana dikemukakan pada bab sebelumnya, pengaruh etika Jawa sangat berpengaruh pada hal ini, mengingat Pondok Pesantren Sunan Drajat merupakan salah satu pondok pesantren yang bertempat di pulau Jawa. Masyarakat di tempat ini masih memegang teguh prinsip kerukunan dan prinsip hormat. Hal ini berpengaruh juga pada santri yang ada di ponpes tersebut. Prinsip kerukunan di sini menuntut untuk mencegah segala cara kelakuan yang bisa mengganggu keselarasan dan ketenangan dalam masyarakat. Peneliti banyak menjumpai santri yang saling menerima dan bekerjasama. Bahkan banyak diantara para santri yang lebih lama belajar disana untuk menawarkan kepada santri baru untuk membimbingnya dalam belajar. Seperti tampak pada dialog berikut.

(104)

Santri 1 : Apalan Imritimu teka endi?

’Hafalan imritimu sampai mana?’

’Hafalan nadham imritimu sudah sampai mana?’

Santri 2 : Gek teka bab Mubtada’ Khobar.

’Baru sampai bab Mubtada’ Khobar (Subyek Predikat)

’Baru sampai bab Mubtada’ Khobar (Subjek Predikat)

Santri 1 : Kok suwe gak mari-mari?

’Kok lama tidak selesai-selesai?’

’Kok lama belum selesai?’

Santri 2 : Kepengin cepet mari tapi lek apalan gak ono sing nyemak. Gak ana sing

mantau.

‘Ingin cepat selesai tapi kalau hafalam tidak ada yang membimbing. Tidak ada

yang memantau.’

‘Ingin cepat selesai tapi kalau hafalam tidak ada yang membimbing. Tidak ada

yang memantau perkembanganku.’

Santri 1 : Njaluk tak semak ta? Aku lek teka sekolah gak repot.

’Minta aku bimbing? Aku kalau pulang sekolah tidak repot.’

’Apakah kamu minta aku bimbing? Sehabis pulang sekolah aku tidak repot.’

Santri 2 : Iya mbak. Mulai mene yo.

‘Iya mbak. Mulai besok ya.’

‘Iya mbak. Bimbing dan pantau aku ya mbak mulai besok.’

Santri 1 : InsyaAllah…

‘InsyaAllah…’

‘InsyaAllah…’

Saat peneliti bertanya kepada santri “Mengapa antarsantri hampir tidak pernah terlihat bertengkar?” Jawaban santri adalah bahwa dalam hidup itu yang penting rukun, yakni menghormati yang lebih tua, menghargai sesama, dan menyayangi yang lebih muda. Menurut survey yang peneliti lakukan, hampir 75% santri menyatakan bahwa itulah yang disebut sopan santun. Hal ini selaras dengan pendapat R Willner yang mengatakan bahwa prinsip kerukunan tidak menyangkut suatu sikap batin atau keadaan jiwa, melainkan penjagaan keselarasan dalam pergaulan (Suseno, 2001: 40).

Dengan adanya norma yang ada di pesantren diharapkan dapat mencegah emosi-emosi yang bisa menimbulkan konflik atau sekurang-kurangnya dapat mencegah jangan sampai emosi-emosi itu pecah secara terbuka. Satu keutamaan yang sangat dihargai oleh orang Jawa adalah kemampuan untuk memperkatakan hal-hal yang tidak enak secara tidak langsung termasuk memerintah/menyuruh. Hal ini sangat menentukan tingkat kesantunan personal masing-masing.

Kerukunan antarsantri dan ustadzah sangat dipengaruhi oleh prinsip hormat, yakni wedi (takut), isin (malu), dan sungkan. Santri beranggapan bahwa seorang guru harus dihormati setelah kedua orang tuanya (wawancara dengan Ketua PPP Sunan Drajat, April 2006). Seorang guru atau yang biasa disebut ustadz/ustadzah di pesantren memiliki kedudukan yang tinggi untuk dihormati setelah keluarga kiai. Hal ini sejalan dengan anggapan masyarakat Jawa yang menganggap seorang guru layaknya digugu lan ditiru (didengarkan dan ditiru). Sikap wedi, isin, dan sungkan terlihat sangat jelas ketika santri berkomunikasi dengan ustadzah. Seperti tampak pada percakapan berikut ini:

Setting: Ustadzah berpapasan dengan santri di depan asrama Az Zahrah

Topik: menanyakan pelajaran

(105)

Ustadzah : Mene ana ulangan Taqrib lho ya.

‘Besok ada ujian Taqrib lho ya’.

‘Besok ada ujian kitab Taqrib lho ya’.

Santri : Inggih. Sampun nderes bu.

‘Iya. Sudah belajar bu’.

’Iya. Saya sudah belajar bu.’

Ustadzah : Kandanana kanca-kancamu ulangane sampe Bab Haji.

‘Bilanglah ke teman-temanmu ujiannya sampai Bab Haji’.

’Bilang ke teman-temanmu ujiannya sampai Bab Haji.’

Santri : Inggih.

‘Iya’

’Iya’

Mengamati percakapan di atas nampak bahwa ustadzah mempunyai kedudukan yang lebih tinggi. Sehingga ketika berkomunikasi dengan ustadzah, santri sangat menjaga bentuk percakapan. Santri cenderung merasa wedi, isin, dan sungkan ditunjukkan pada tuturan Inggih. Sampun nderes bu. dan Inggih.

Seperti tampak juga pada percakapan antara pengurus, santri dan peneliti berikut.

(106)

Santri : Mbak Dwi, Mita ijin mboten tumut manakiban.

’Mbak Dwi, Mita ijin tidak ikut manakiban.’

’Mbak Dwi, Mita ijin untuk tidak ikut kegiatan membaca manakib.’

Pengurus : Lapo gak melu?

’Kenapa tidak ikut?’

’Kenapa Mita tidak ikut?’

Santri : Sakit.

’Sakit.’

’Sakit.’

Pengurus : Bocahe loro apa? Lek mek loro pilek ae yo ce’e melu. Masio gak melu

moco ya gak papa.

‘Anaknya sakit apa? Kalau cuma sakit flu saja ya biar ikut. Keskipun

tidak ikut membaca ya tidak apa-apa.

’Anaknya sakit apa? Kalau cuman sakit flu ya sebaiknya ikut. Meskipun

tidak ikut membaca juga tidak apa-apa.’

Santri : Sakit sira mbak.

‘Sakit kepala mbak.’

’Mita sakit kepala mbak.’

Pengurus : Ya wis. Ayo nang mushola bareng.

‘Ya sudah. Ayo ke musholah bersama-sama.’

‘Ya sudah. Ayo menuju musholah bersama-sama.’

Santri : Inggih.

‘Iya.’

‘Iya.’

Ketika berjalan menuju musholah, pengurus lupa tidak membawa kitabnya.

Peneliti : Manakibe nang mejo iku gak digawa ta mbak?

‘Manakibnya di meja itu tidak dibawa ta mbak?’

‘Apakah kitab manakib di meja itu tidak dibawa mbak?’

Pengurus : Oh iya, lali aku.

’Oh iya, aku lupa.’

’Oh iya, aku lupa.’

Dari tuturan di atas jelas terlihat bahwa santri lebih sedikit berbicara ketika berbicara dengan pengurus. Ini merupakan ekspresi dari prinsip hormat dimana santri merasa wedi (takut), isin (malu), dan sungkan kepada pengurus. Ketika pengurus lupa tidak membawa kitabnya, santri tidak berani mengingatkan meskipun menurut peneliti, saat itu si santri mengetahui hal itu. Dalam kehidupan santri sehari-hari, jarang sekali ditemui santri berbicara dengan pengurus maupun ustadzah dengan menggunakan kalimat bermakna imperatif pragmatik.

Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa semakin panjang bentuk tuturan maka semakin besar keinginan penutur untuk bersikap santun kepada mitra tuturnya, yang selalu dicerminkan dalam tuturan mereka. Bila diamati secara seksama, penutur sebenarnya tidak hanya semaunya sendiri dalam mengungkapkan bentuk-bentuk tuturan yang memiliki tingkat kesantunan yang berbeda-beda itu. Misalnya tuturan Tulung, panjenengan pendhetaken buku niku! Tidak akan dipilih oleh pengurus ataupun ustadzah untuk menyuruh santrinya. Dalam hal ini, pengurus ataupun ustadzah lebih senang menggunakan Tulung, jupukna buku iku! Yang bentuknya kurang sopan. Justru pemilihan bentuk yang lebih halus dianggap tidak mengenakkan santri tersebut. Parameter pragmatik sebaiknya dipahami dengan baik agar mitra tutur tidak merasa kehilangan muka (face) atau citra diri (self image).

Dalam pandangan kesantunannya, Brown dan Levinson menitik beratkan kesantunan pada muka. Mereka mengungkapkan bahwa penutur mempergunakan strategi linguistik yang berbeda-beda di dalam memperlakukan secara wajar mitra tuturnya. Sebagaimana telah dikemukakan pada landasan teori, Brown dan Levinson dalam Wijana mengidentifikasikan empat strategi dasar diantaranya:

Strategi 1 ® Kurang santun

Strategi 2 ® Agak santun

Strategi 3 ® Lebih santun

Strategi 4 ® Paling santun

Keempat strategi ini harus dikaitkan dengan tiga skala atau parameter pragmatik seperti yang telah dikemukakan Brown dan Levinson, yaitu tingkat jarak sosial, tingkat status sosial dan tingkat peringkat tindak tutur.

Tingkat jarak sosial antara penutur dan mitra tutur dalam penelitian ini ditentukan berdasarkan parameter perbedaan umur yang direfleksikan bahwa semua ustadzah dan pengurus Pondok Pesantren Putri Sunan Drajat, usianya lebih tua dibandingkan santri/muridnya dan satri yang dipimpinnya.

Tingkat status sosial didasarkan atas kedudukan asimetris antara penutur dan lawan tutur di dalam konteks pertuturan. Asimetris yang dimaksud disini yaitu dalam lingkup ustadzah-santri dan pengurus-santri, mengingat penelitian ini hanya dibatasi pada santri putri. Dengan kata lain bisa diuraikan sebagai berikut

Tingkat ilmu:

Ustadzah

Asimetris

Santri

Simetris

Santri (murid) Santri (murid)

Simetris

Ustadzah Ustadzah

Status kelembagaan:

Pengurus

Asimetris

Santri

Simetris

Santri Santri

Simetris

Pengurus Pengurus

Sedangkan tingkat peringkat tindak tutur yang didasarkan atas kedudukan relatif tindak tutur yang satu dengan tindak tutur yang lain terlihat pada tuturan santri dengan nada tinggi ketika sedang mengaji dinilai tidak santun. Namun jika tuturan dengan nada tinggi tersebut diucapkan santri di kamar mandi untuk antri mandi, maka tuturan itu dianggap wajar.

Berikut ini akan dibahas strategi dasar seperti yang telah dikemukakan Brown dan Levinson:

(1) Strategi 1 kurang santun, digunakan kepada teman akrab.

Strategi ini ditandai dengan:

Tuturan yang pendek

Urutan tutur diawali dengan tuturan imperatif

Intonasi tinggi

Tidak menggunakan ungkapan penanda kesantunan

Tuturan langsung yang diwujudkan dalam bentuk tuturan imperatif.

Untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada beberapa contoh di bawah ini.

v Dilihat berdasarkan tingkat ilmu, strategi ini digunakan oleh santri terhadap santri (teman akrab), ustadzah terhadap ustadzah (hubungan yang akrab), dan ustadzah terhadap santri. Untuk lebih jelasnya, silahkan perhatikan tuturan berikut:

· Tuturan santri terhadap santri

(45) Menenga! Ana adzan.

’Diam! Ada adzan.’

‘Diam! Sedang ada suara adzan berkumandang.’

Konteks tuturan:

Tuturan di atas diucapkan santri kepada teman akrabnya yang masih berbicara saat terdengar suara adzan.

  • Tuturan ustadzah terhadap ustadzah

(88) Bu, sampeyan ngajara ambek aku semester ngarep.

‘Bu, anda mengajarlah bersama saya semester depan.’

‘Bu mengajarlah bersama saya ya semester depan.’

Konteks tuturan:

Tuturan tersebut dituturkan ustadzah kepada temannya sesama ustadzah yang sudah akrab di kantor Diniyah.

  • Tuturan ustadzah terhadap santri

(26) Lek gurune nerangna, mbok diperhatikna

’Kalau gurunya menerangkan hendaknya diperhatikan’

’Kalau guru sedang menerangkan pelajaran hendaknya diperhatikan’

Konteks tuturan:

Tuturan ini diucapkan seorang ustadzah kepada santri yang berbicara dengan temannya ketika sedang mengaji.

v Dilihat berdasarkan status kelembagaan, strategi ini digunakan oleh santri terhadap santri (teman akrab), pengurus terhadap pengurus (hubungan yang akrab), dan pengurus terhadap santri. Seperti tampak pada tuturan berikut:

· Tuturan santri terhadap santri

(75) Adus! Selek jama’ah!

’Mandi! Keburu jama’ah!’

’Cepat mandi! Keburu waktunya sholat jama’ah!’

Konteks tuturan:

Tuturan ini diucapkan santri kepada temannya di kamar/asrama.

  • Tuturan pengurus terhadap pengurus

(107) Ndang diumumna! Rita disambangi abahe.

’Lekas diumumkan! Rita dijenguk ayahnya.’

’Cepat umumkan! Rita dijenguk ayahnya.’

Konteks tuturan:

Tuturan ini disampaikan pengurus kepada sesama temannya di kantor pengurus ketika ada salah satu santri yang dijenguk keluarganya.

  • Tuturan pengurus terhadap santri

(47) Lungguh! Kene’ ta’zir kok terus.

’Duduk! Kena hukuman kok terus.’

’Duduk! Masa kena hukuman kok terus.’

Konteks tuturan:

Tuturan di atas diucapkan pengurus keamanan kepada santri yang sering melanggar peraturan pondok.

(2) Strategi 2 agak santun, digunakan kepada teman yang tidak (belum) begitu akrab.

Strategi ini ditandai dengan:

Tuturan yang lebih panjang

Penggunaan bentuk persona kedua

Intonasi sedang

Penggunaan ungkapan penanda kesantunan

Tuturan langsung yang diwujudkan dalam bentuk tuturan imperatif.

Untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada beberapa contoh di bawah ini.

v Dilihat berdasarkan tingkat ilmu, strategi ini digunakan oleh santri terhadap santri (teman yang tidak/belum akrab), ustadzah terhadap ustadzah (hubungan yang tidak/belum akrab). Silahkan perhatikan tuturan berikut:

· Tuturan santri terhadap santri (teman yang tidak/belum akrab)

(108) Mbak tulung jupukna pulpen biru iku!

’Mbak tolong ambilkan pulpen biru itu!’

‘Mbak tolong ambilkan pulpen warna biru itu!’

Konteks tuturan:

Tuturan di atas dituturkan oleh seorang santri kepada temannya (keduanya bukan teman akrab) di kamar.

· Tuturan ustadzah terhadap ustadzah (hubungan yang tidak/belum akrab)

(88a) Bu, sampeyan iso ngajar ambek aku semester ngarep?

‘Bu, Anda bisa mengajar bersama saya semester depan?’

‘Apakah semester depan anda bisa mengajar bersama saya?’

Konteks tuturan:

Tuturan tersebut dituturkan ustadzah kepada temannya sesama ustadzah di kantor Diniyah.

v Dilihat berdasarkan status kelembagaan, strategi ini digunakan oleh santri terhadap santri (teman yang tidak/belum akrab), pengurus terhadap pengurus (hubungan yang tidak/belum akrab). Silahkan perhatikan tuturan berikut:

· Tuturan santri terhadap santri (teman yang tidak/belum akrab)

(89) Aku njaluk sepura ya, sampeyan ojo muring-muring maneh.

‘Aku meminta maaf ya, kamu jangan marah lagi.’

’Aku minta maaf ya, kamu jangan marah lagi ke aku.’

Konteks tuturan:

Tuturan tersebut dituturkan seorang santri kepada temannya karena telah memecahkan gelas kesayangannya.

· Tuturan pengurus terhadap pengurus (hubungan yang tidak/belum akrab)

(54) Ncul ta mbak, gantikna aku qiro’ah!

’Ayolah mbak, gantikan aku qiro’ah!’

’Mbak gantikan aku qiro’ah!’

Konteks tuturan:

Tuturan di atas diucapkan pengurus kepada pengurus untuk menggantikan qiro’ah pada acara muhadhoroh, dikarenakan santri tersebut berhalangan.

(3) Strategi 3 lebih santun, digunakan kepada orang yang belum dikenal.

Strategi ini ditandai dengan:

Tuturan panjang

Penggunaan bentuk persona kedua

Intonasi sedang

Penggunaan ungkapan penanda kesantunan

Tuturan langsung yang diwujudkan dalam bentuk tuturan imperatif.

Untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada beberapa contoh di bawah ini.

v Dilihat berdasarkan tingkat ilmu, strategi ini digunakan oleh santri terhadap santri (santri baru), ustadzah terhadap ustadzah (ustadzah baru). Silahkan perhatikan tuturan berikut:

· Tuturan santri terhadap santri (belum kenal)

(109) Dik, kelase sampeyan wis masuk.

’Dik, kelasnya kamu sudah masuk.’

’Dik kelas kamu sudah masuk.’

Konteks tuturan:

Tuturan di atas diucapkan santri kepada santri baru di depan kelas.

· Tuturan ustadzah terhadap ustadzah (belum kenal)

(110) Bu, menawi ngajar kelas ula njenengan kengken cah-cah maknani

setunggal-setunggal!

‘Bu, kalau mengajar kelas ula (kelas 3) anda suruh anak-anak memaknai

satu per satu’

‘Bu, kalau mengajar kelas 3 suruh anak-anak memaknai kitab satu per satu’

Konteks tuturan:

Tuturan di atas diucapkan ustadzah kepada ustadzah baru yang belum begitu dikenal oleh 01, ketika pertama kali mengajar kelas ula Diniyah.

v Dilihat berdasarkan status kelembagaan, strategi ini digunakan oleh santri terhadap santri (santri baru). Silahkan perhatikan tuturan berikut:

· Tuturan santri terhadap santri (belum kenal)

(111) Dik, lek arepe mbuwak sampah nang kono!

’Dik, kalau akan membuang sampah di disana!

‘Dik, kalau membuang sampah, buanglah disana!’

Konteks tuturan:

Tuturan di atas diucapkan santri kepada santri baru di depan asrama.

Untuk tuturan pengurus terhadap pengurus yang belum saling kenal tidak penulis temukan dalam penelitian ini. Hal ini dikarenakan alasan bahwa seorang santri yang diangkat sebagai pengurus pondok adalah santri yang sudah lama tinggal di pesantren dan dimungkinkan antara pengurus yang satu dengan yang lainnya sudah saling kenal sebelumnya.

(4) Strategi 4 paling santun, digunakan kepada orang yang berstatus sosial lebih tinggi.

Strategi ini ditandai dengan:

Tuturan yang pendek

Intonasi rendah

Penggunaan ungkapan penanda kesantunan

Tuturan tidak langsung

Untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada beberapa contoh di bawah ini.

v Dilihat berdasarkan tingkat ilmu, strategi ini digunakan oleh santri terhadap ustadzah. Seperti tampak pada tuturan berikut:

· Tuturan santri terhadap ustadzah

(112)

Ustadzah : Sakniki kula maknani bab 4. Mangga disemak!

’Sekarang saya memaknai bab 4. Silahkan diperhatikan!’

‘Sekarang saya maknai bab 4. silahkan diperhatikan!’

Santri : (mengangkat tangan) bab 3 dereng bu.

(mengangkat tangan) ‘bab 3 belum bu.’

(mengangkat tangan) ‚bab 3 belum dimaknai bu.’

Ustadzah : Lho, bab 3 dereng tho? Lek ngoten sakniki maknani bab 3.

’Lho, bab 3 belum? Kalau begitu sekarang memaknai bab 3.’

’Bab 3 belum dimaknai ya?

Kalau begitu sekarang maknai bab 3.’

Konteks tuturan:

Tuturan di atas diucapkan santri kepada ustadzah saat mengaji di dalam kelas.

v Sedangkan jika dilihat berdasarkan status kelembagaan, strategi ini digunakan oleh santri kepada pengurus. Perhatikan tuturan berikut:

· Tuturan santri terhadap pengurus

(35) Mbak Dwi, monggo!

’Mbak Dwi, silahkan!’

’Silahkan makan bersama kita mbak Dwi!’

Konteks Tuturan:

Tuturan tersebut diucapkan santri yang sedang makan di dalam kamar bersama teman-temannya, dan melihat ketua pondok lewat di depan kamar.

Tuturan bermakna imperatif pragmatik yang dituturkan santri kepada ustadzah maupun pengurus pondok, jarang sekali terlihat dalam komunikasi sehari-hari dan hampir bisa dipastikan tidak ada. Jika memang ada itu pun tidak langsung.

Untuk mengetahui lebih jelas mengenai strategi kesantunan antarsantri putri Pondok Pesantren Sunan Drajat, bisa dilihat pada tabel berikut.

Tabel 3. Strategi kesantunan dalam interakasi antarsantri putri Pondok Pesantren

Putri Sunan Drajat.

No

Jenis strategi

Ciri-ciri

Dilihat berdasarkan

Tuturan

1.

Strategi 1 kurang santun

(digunakan kepada teman akrab)

Tuturan yang pendek

Urutan tutur diawali dengan tuturan imperatif

Intonasi tinggi

Tidak menggunakan ungkapan penanda kesantunan

Tuturan langsung yang diwujudkan dalam bentuk tuturan imperatif.

Tingkat ilmu

Santri terhadap santri

Ustadzah terhadap ustadzah

Ustadzah terhadap santri

Status kelembagaan

Santri terhadap santri

Pengurus terhadap pengurus

Pengurus terhadap santri

2.

Strategi 2 agak santun

(digunakan kepada teman yang tidak (belum) begitu akrab)

Tuturan yang lebih panjang

Penggunaan bentuk persona kedua

Intonasi sedang

Penggunaan ungkapan penanda kesantunan

Tuturan langsung yang diwujudkan dalam bentuk tuturan imperatif.

Tingkat ilmu

Santri terhadap santri

Ustadzah terhadap ustadzah

Status kelembagaan

Santri terhadap santri

Pengurus terhadap pengurus

3.

Strategi 3 lebih santun

(digunakan kepada orang yang belum dikenal)

Tuturan panjang

Penggunaan bentuk persona kedua

Intonasi sedang

Penggunaan ungkapan penanda kesantunan

Tuturan langsung yang diwujudkan dalam bentuk tuturan imperatif.

Tingkat ilmu

Santri terhadap santri (belum saling kenal)

Ustadzah terhadap ustadzah (belum saling kenal)

Status kelembagaan

Santri terhadap santri (belum saling kenal)

4.

Strategi 4 paling santun

(digunakan kepada orang yang berstatus sosial lebih tinggi)

Tuturan yang pendek

Intonasi rendah

Penggunaan ungkapan penanda kesantunan

Tuturan tidak langsung

Tingkat ilmu

Santri terhadap ustadzah

Santri terhadap pengurus

Status kelembagaan

Dari tabel di atas bisa dilihat bahwa tuturan pendek dinilai lebih santun jika digunakan dalam berinteraksi santri terhadap ustadzah dan pengurusnya, sedangkan tuturan yang lebih panjang dinilai kurang santun, bahkan tidak santun. Perilaku santri yang tidak banyak bicara justru semakin menunjukkan bahwa santri tersebut semakin santun terhadap ustadzah maupun pengurus pondok.

3 Comments »

  1. ijin copy buat referensi ya

    Comment by sastra33 — October 31, 2011 @ 3:41 pm | Reply

  2. Nyuwun ijin nggih… kulo sampun ngopi,

    Comment by dodox — February 25, 2012 @ 12:51 pm | Reply


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: