Skripsi – Kesantunan Berbahasa

BAB IV SIMPULAN DAN SARAN

BAB IV

SIMPULAN DAN SARAN

4.1 Simpulan

Wujud pemakaian kesantunan imperatif dalam interaksi antarsantri putri Pondok Pesantren Sunan Drajat Banjaranyar Paciran Lamongan dibagi menjadi wujud imperatif dan kesantunan imperatif. Wujud imperatif meliputi wujud imperatif formal (imperatif aktif dan imperatif pasif) dan wujud imperatif pragmatik (tuturan bermakna pragmatik imperatif desakan, bujukan, himbauan, persilaan, larangan, perintah, permintaan, dan “ngelulu”). Sedangkan kesantunan imperatif meliputi kesantunan linguistik (faktor panjang pendek tuturan, faktor urutan tutur, faktor intonasi tuturan dan isyarat-isyarat kinesik, dan faktor ungkapan-ungkapan penanda kesantunan yang meliputi penanda kesantunan tulung, ayo, coba, mbok/mbokya, dan ndang) dan kesantunan pragmatik (kesantunan pragmatik imperatif dalam tuturan deklaratif dan kesantunan pragmatik imperatif dalam tuturan interogatif). Bentuk imperatif santri terhadap ustadzah dan pengurus hampir bisa dipastikan tidak ada. Salah satu faktor penyebabnya yaitu norma-norma di pesantren yang mengharuskan santri untuk selalu hormat dan patuh kepada ustadzah dan pengurus, mengingat status ustadzah dan pengurus yang lebih tinggi daripada santri. Selain itu juga santri diharuskan mempunyai sikap wedi (takut), isin (malu), dan sungkan ketika berkomunikasi dengan ustadzah dan pengurus.

Berdasarkan tiga jenis makna dasar yang telah diungkapkan Kashiwazaki, maka dapat diketahui bahwa delapan jenis makna imperatif pragmatik dalam interaksi antarsantri Pondok Pesantren Sunan Drajat Banjaranyar Paciran Lamongan dilihat dari tingkat ilmu dan status kelembagaan, bisa dikelompokkan menjadi (1) imperatif pragmatik yang mengandung makna dasar “perintah“, yaitu makna desakan, bujukan, larangan, perintah, dan “ngelulu” (2) imperatif pragmatik yang mengandung makna dasar “permintaan“, yaitu makna permintaan (3) imperatif pragmatik yang mengandung makna dasar “nasehat/rekomendasi“, yaitu makna himbauan dan persilaan.

Status sosial berpengaruh terhadap strategi dalam berinteraksi antarsantri yang direfleksikan melalui pemilihan bentuk tuturan imperatif yang dinilai bisa menjaga keselarasan hubungan antarsantri. Berdasarkan empat strategi dasar yang dikemukakan Brown dan Levinson, beberapa strategi tersebut terefleksi dalam penggunaan tuturan santri. Strategi 1 kurang santun, strategi ini ditandai dengan: tuturan yang pendek, urutan tutur diawali dengan tuturan imperatif, intonasi tinggi, tidak menggunakan ungkapan penanda kesantunan, dan penggunaan tuturan langsung yang diwujudkan dalam bentuk tuturan imperatif. Strategi 2 agak santun, strategi ini ditandai dengan: tuturan yang lebih panjang, penggunaan bentuk persona kedua, intonasi sedang, penggunaan ungkapan penanda kesantunan, dan penggunaan tuturan langsung yang diwujudkan dalam bentuk tuturan imperatif. Strategi 3 lebih santun, strategi ini ditandai dengan: tuturan panjang, penggunaan bentuk persona kedua, intonasi sedang, penggunaan ungkapan penanda kesantunan, dan penggunaan tuturan langsung yang diwujudkan dalam bentuk tuturan imperatif. Strategi 4 paling santun, strategi ini ditandai dengan: tuturan yang pendek, intonasi rendah, penggunaan ungkapan penanda kesantunan, dan penggunaan tuturan tidak langsung.

Tuturan pendek dinilai lebih santun jika digunakan dalam berinteraksi santri terhadap ustadzah dan pengurusnya, sedangkan tuturan yang lebih panjang dinilai kurang santun, bahkan tidak santun. Perilaku santri yang tidak banyak bicara justru semakin menunjukkan bahwa santri tersebut semakin santun terhadap ustadzah maupun pengurus pondok.

4.2 Saran

Penelitian ini bisa dikembangkan lebih lanjut untuk penelitian-penelitian selanjutnya, diantaranya kesantunan berbahasa antarsantri dilihat dari daerah asal santri, mengingat santri Pondok Pesantren Putri Sunan Drajat tidak hanya berasal dari daerah Lamongan dan Gresik saja. Selain itu bisa juga dilakukan penelitian mengenai interaksi yang asimetris antara kiai dan santri.

Sedangkan untuk penelitian lebih luas perlu dilakukan studi komparasi kesantunan berbahasa antara pondok pesantren modern dengan pondok pesantren tradisional, mengingat penulis melihat ada perbedaan yang signifikan cara berinteraksi santri di pondok pesantren modern dan tradisional.

7 Comments »

  1. Mbak Ida…………..maaf sy minta izin skripsi mba sy jadikan referensi buat bantu2 temen yg lagi pada memenuhi tugas akhir……………..thanks berat buat mbak ida semoga mbak termasuk dlm insan yang dikategorikan oleh baginda Rosuul, “KHOERUNNAAS…AMFA-UHUM LINNAAS…………..SEBAIK2NYA MANUSIA,YG PUNYA MANFAAT BAGI ORG BANYAK”

    Comment by Muhammad Agi Fajar Maula — April 16, 2011 @ 1:00 pm | Reply

    • Amiiinn. Makasih Fajar, semoga skripsi saya bisa bermanfaat untuk orang lain.
      Selamat berselancar ilmu🙂

      Comment by Ida — December 21, 2011 @ 3:11 am | Reply

  2. permisi,,numpang minta ilmu….

    Comment by Ozy Nora — January 11, 2012 @ 4:12 pm | Reply

  3. salam kenal mbak..
    ijin make isi blognya buat referensi tugas ya?:mrgreen:

    Comment by papazz23 — June 4, 2012 @ 10:00 am | Reply

  4. Maaf aku copy ilmu sblum diizinin hehehe mksi sblumY…..

    Comment by Vad Uka — November 25, 2012 @ 4:08 am | Reply


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: